Petani memanen sayur terong (Solanum melongena) jenis hitavi atau terong hijau di areal persawahan Pucung, Tulungagung, Jawa Timur, Rabu (19/2/2020).
Petani memanen sayur terong (Solanum melongena) jenis hitavi atau terong hijau di areal persawahan Pucung, Tulungagung, Jawa Timur, Rabu (19/2/2020).

Tulungagung, aktual.com – Petani tanaman terong (solanu melongena) di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur tetap bertahan menanam komoditas sayuran tersebut meski harga jualnya saat ini “terjun bebas”, dari sebelumnya sempat naik hingga kisaran Rp7 ribu per kilogram kini tinggal Rp1 ribu saja untuk volume yang sama.

“Harga memang jatuh, tapi kami masih tertolong karena jenis terong hitavi memiliki daya tahan baik dan bisa panen hingga puluhan kali,” kata Samsul, petani terong di Desa Pucung, Kecamatan Ngantru, Tulungagung, Rabu [19/2].

Senyum masih tampak mengembang di raut muka Samsul saat memanen tanaman sayur terong miliknya yang berada di pinggir jalan raya alternatif Tulungagung-Blitar.

Sepekan lalu dia baru panen yang keempat kalinya dengan volume hasil panenan mencapai 1,2 ton. Dengan acuan harga bulan lalu yang masih di kisaran Rp3 ribu per kilogram, Samsul mampu meraup hasil penjualan sekitar Rp3,6 juta.

Setelah enam hari berlalu, kini Samsul kembali bisa memanen terong di areal yang sama dan dia optimistis volume yang dihasilkan lebih besar.

“Tanaman sayur terong seperti ini bisa dipanen dalam jangka waktu lama, bahkan hingga setahun. Setiap enam hari bisa dipetik hasilnya karena tanaman kan terus berbunga. Pokok tidak hujan, hasilnya Insya Allah bagus,” ujarnya.

Jika pun saat ini ia mendapat panenan sekitar 1,3 ton, misalnya, dengan asumsi harga saat ini yang jatuh di kisaran Rp1 ribu per kilogram, Samsul masih bisa mendapat hasil penjualan Rp1,2 juta.

“Ya tetap masih untung, karena panennya bisa berulang kali. Tapi kalau boleh milih kan tentu petani lebih senang jika harga jual tinggi,” ujarnya.

Jatuhnya harga sayur disinyalir karena saat ini musim panen sayuran. Tidak semata karena banyak pasokan terong dari petani, namun karena komoditas sayuran secara umum sedang berlimpah.

Akibatnya, harga komoditas sayur terong ikut tertekan. “Dari daerah pegunungan saat ini banyak panen sayuran. Itu dibawa ke bawah (daerah dataran/kota) harga komoditas terong menjadi terjun bebas.

“Kalau musim panen memang begini. Jenis (terong) hitavi atau terong hijau memang banyak disukai. Tata cara tanam dan pemeliharaannya juga simple┬ádan, murah,” katanya..

(Eko Priyanto)