Maulana Syekh Dr. Yusri Rusydi Sayyid Jabr al-Hasani membaiat thariqoh Shiddiqiah, Darqawiah, Syadziliah usai acara Maulid baginda Nabi Muhammad SAW di Zawiyah Arraudhah, Jalan Tebet Barat, Jakarta Pusat, Sabtu (13/1/2018) malam. Syekh Yusri mengingatkan kepada jamaah yang telah di baiat untuk mengikuti Hadroh Usbuiyah setiap Kamis malam di Zawiyah Arraudhah. AKTUAL/Tino Oktaviano

Kairo, Aktual.com – Dalam suatu wawancara Maulana Syeikh Dr. Yusri Rusydi Sayyid Jabr Al-Hasani hafizhahullah, seorang Ulama sekaligus Dokter Spesialis Bedah Toraks-Kardiovaskular ditanya.

“Syeikh, anda seorang dokter bedah. Bukankah Dokter bedah itu selalu berhubungan dengan pisau bedah. Bagaimana anda menggabungkan antara ilmu bedah dan pisaunya itu dengan posisi anda sebagai seorang ahli agama, dan juga pakar tasawuf, sedangkan tasawuf adalah tentang kelembutan hati ?.” Tanya si pembawa acara.

 

Syeikh dr. Yusri pun menjawab, “Seorang dokter bedah yang sukses mestilah dia menjadi dokter bedah yang penuh kasih sayang, karena jika seorang dokter bedah berhati keras akan serampangan dalam menghadapi pasien dan bahkan bisa menghilangkan nyawa pasien.”

Beliau melanjutkan, “Kami memiliki masalah dengan sebagian dokter bedah yang terlalu berani dan juga terburu-buru yang di rasa itu akan membahayakan pasien. Sebab itulah seorang dokter bedah mestilah memiliki keberanian bersamaan dengan rasa kasih sayang kepada sesama mahluk-Nya.”

“Sampai seorang guru besar kami berkata pada kami, seorang dokter bedah yang pandai adalah dia yang tahu kapan harus berhenti, bukan kapan harus melanjutkan.” Tutur Syeikh Yusri.

 

Ada beberapa pesan dari beliau, diantaranya:

• Tuntutlah ilmu untuk mencari ridha Allah, karena kita ini muslim bukan tujuan untuk dipandang manusia.

•Bersungguh-sungguh, rendah hati kepada orang lain, kepada pasien, hormati guru yang mengajar. Kekal-lah dengan apa yang telah ditentukan Allah.

• Jangan hanya bertujuan untuk dunia, tetapi jadikan tujuan untuk akhirat. Rezeki sudah ditentukan Allah, itqan (bersungguh-sungguh) dalam pekerjaanmu itulah yang dituntut.

Sidy Ibnu Athaillah berkata “Sibuk dengan perkara yang telah ditentukan (rezeki), dan menjauhkan diri dari perkara yang dituntut (bersungguh-sungguh) adalah tanda Allah mencabut pandangan baik dari jiwa”.

Ditulis oleh : Handa

(As'ad Syamsul Abidin)