Jakarta, aktual.com – Produk radiofarmaka Indonesia yang merupakan hasil kerja sama Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dan PT Kimia Farma memiliki potensi untuk merambah pasar ekspor.

“Jadi memang upaya kita punya proyeksi jangka panjang dan bahkan ke depannya mau merambah pasar ekspor. Karena ini (radiofarmaka) adalah niche market, bahkan di Indonesia sekalipun ini masih niche market,” ujar New Product Development Manager Kimia Farma Ridho Eko Mulyono ketika dihubungi di Jakarta pada Rabu (4/12).

Niche market adalah pasar yang fokus terhadap suatu jenis atau layanan tertentu, yang merupakan salah satu indikator dari pasar radiofarmaka yang masih jarang ditemui produknya di Indonesia sendiri.

Banyak negara yang bisa menjadi ekspor produk radiofarmaka seperti Malaysia dan Filipina, ujar Ridho, karena meski memiliki sentra kedokteran nuklir, mereka jarang memproduksi radiofarmaka sendiri.

Bahkan, kamera gamma yang diperlukan untuk pencitraan radiasi radioisotop yang masuk dalam produk radiofarmaka hanya ada 7 yang beroperasi dengan baik.

Sebelumnya, BATAN dan Kimia Farma sudah melakukan kerja sama untuk lima produk radiofarmaka yang setelah mendapatkan izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kementerian Kesehatan hingga akhirnya mendapatkan persetujuan registrasi Nomor Izin Edar.

Radiofarmaka sendiri adalah senyawa kimia yang mengandung atom radioaktif dalam strukturnya dan digunakan untuk diganosis atau terapi. Obat dan farmakologi itu dihasilkan dari radiofarmasi atau menggunakan teknologi nuklir.

Lima produk hasil kerja sama BATAN dan Kimia Farma itu sudah digunakan oleh kedokteran nuklir di Indonesia, yang pakarnya sendiri di Indonesia masih belum banyak.

“Pemahaman masyarakat terkait kegunaan kedokteran nuklir ini memang masih merupakan PR juga bagi Kimia Farma, BATAN dan buat kedokteran nuklir untuk mengedukasi tidak hanya pasien tapi kedokteran yang lain,” ujar dia.

Lima produk kerja sama BATAN dan Kimia Farma itu adalah Kit MIBI untuk mendiagnosis fungsi jantung, Kit MDP untuk diagnosis penyebaran kanker di dalam tulang, DTPA untuk diagnosis fungsi ginjal, Radiofarmaka Senyawa Bertanda 153 Sm-EDTMP atau samarium yang digunakan untuk terapi paliatif atau mengurangi rasa nyeri kepada penderita kanker, dan yang terakhir adalah Radiofarmaka Senyawa Bertanda 131 I-MIBG, digunakan untuk mendiagnosis kanker neuroblastoma atau sistem saraf pada anak-anak. [Eko Priyanto]

(Zaenal Arifin)