Jakarta, Aktual.com – Iran dilaporkan telah mengajukan proposal perdamaian berisi 14 poin kepada Amerika Serikat melalui perantara Pakistan, sebagai upaya untuk mengakhiri konflik bersenjata yang melibatkan kedua negara.
Kantor berita resmi IRNA melaporkan bahwa proposal tersebut telah diserahkan pada 30 April 2026. Sementara itu, kantor berita semiresmi Tasnim News Agency mengungkap rincian isi proposal tersebut.
Menurut laporan Tasnim, Iran menolak usulan gencatan senjata selama dua bulan dari Washington dan justru mengusulkan penyelesaian menyeluruh dalam waktu 30 hari.
“Iran bersikeras bahwa pembicaraan harus fokus pada ‘mengakhiri perang’ alih-alih sekadar gencatan senjata sementara,” demikian dikutip dari laporan Tasnim, Sabtu (2/5/2026).
Dalam proposal tersebut, Teheran mengajukan sejumlah tuntutan utama, antara lain penarikan penuh pasukan AS dari kawasan sekitar Iran, jaminan tidak adanya agresi militer di masa mendatang, serta pembayaran kompensasi atas kerugian akibat konflik.
Selain itu, Iran juga menuntut pencabutan sanksi ekonomi, pencairan aset yang dibekukan di luar negeri, serta penghentian blokade angkatan laut yang diberlakukan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Terkait jalur strategis energi global, Iran mengusulkan pembentukan mekanisme baru untuk pengelolaan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.
Proposal tersebut juga mencakup seruan penghentian pertempuran di berbagai front konflik, termasuk di Lebanon.
Sementara itu, Iran saat ini masih menunggu tanggapan resmi dari pemerintah AS atas proposal yang diajukan melalui jalur diplomatik tersebut.
Sebelumnya, konflik antara Iran dan AS meningkat setelah serangan gabungan yang dilancarkan oleh AS dan Israel pada 28 Februari 2026 ke sejumlah wilayah di Iran. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan ribuan korban jiwa.
Iran kemudian membalas melalui serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta kepentingan AS di kawasan Timur Tengah.
Gencatan senjata sempat diberlakukan pada 8 April 2026, yang kemudian diikuti dengan perundingan antara delegasi Iran dan AS di Islamabad. Namun, negosiasi tersebut belum menghasilkan kesepakatan final.
Hingga kini, para mediator internasional masih berupaya mendorong dimulainya kembali perundingan untuk mencapai penyelesaian konflik secara permanen.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi

















