Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Letjen (Purn) Lodewijk Fredrich Paulus dan Wakil Ketua Koordinator Bidang Penggalangan Khusus Partai Golkar Rizal Mallarangeng saat konferensi pers di kantor DPP Partai Golkar, Jalan Angrek Nelly, Jakarta, Kamis (25/1/2018). Hasil survei Lembaga Survei Indonesia pimpinan Denny JA menunjukkan posisi Partai Golkar berada di papan atas bersama PDIP. Bahkan tren Golkar cenderung naik, sementara PDIP cenderung turun. AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, Aktual.com – Politisi Partai Golkar Rizal Mallarangeng meyakini penyelenggaraan Musyawarah Nasional Partai Golkar 3-6 Desember 2019 di Jakarta, akan berlangsung damai dan demokratis meski tensi politik menjelang pelaksanaannya mulai meningkat.

“Wajarlah (tensi meningkat). Golkar partai besar, makin tinggi pohon, makin banyak angin. Tapi, Munas pada akhirnya akan damai dan demokratis,” kata Rizal dalam keterangan di Jakarta, Minggu.

Plt Ketua Partai Golkar DKI Jakarta itu mengajak seluruh kader Partai Golkar menyambut Munas nanti dalam suasana kegembiraan dan persahabatan.

“Kompetisi adalah hal yang biasa. Malah bagus. Tapi ya harus menjadi proses yang membesarkan partai, bukan memecah-belah. Golkar partai besar, kita harus membuatnya lebih besar lagi, bersama-sama,” katanya.

Adapun terkait pemilihan ketua umum dalam Munas, Rizal melihat calon petahana Airlangga Hartarto sudah mengantongi dukungan mayoritas. Rizal meyakini Airlangga akan terpilih kembali menjadi Ketua Umum Golkar.

Mengenai kritikan yang dilontarkan kubu Bambang Soesatyo (Bamsoet) soal penunjukan Pelaksana tugas Ketua Golkar di berbagai daerah, termasuk DKI Jakarta, Rizal Mallarangeng menilai isu tersebut hanya dicari-cari.

“Kritik seperti itu dicari-cari. Plt itu bukan orang, tapi lembaga. Sejauh prosedur penetapannya sah, ya tidak ada masalah. Hak suaranya tidak berbeda dengan ketua definitif,” ujarnya.

Di DKI Jakarta sendiri, kata Rizal, pihaknya secara demokratis sudah mengadakan rapat pleno, dan hasilnya adalah dukungan bulat kepada Airlangga Hartarto.

“Keputusan inilah yang kami bawa ke Munas. Jadi tidak sembarangan, tetapi terlembaga. Bukan orang, tapi organisasi. Itu esensinya,” tegas Rizal.

Mengenai masa jabatan Plt yang dinilai berkepanjangan, Rizal berkata bahwa hal itu harus dilihat pada konteksnya. Dirinya masih menjadi pelaksana tugas karena berdasarkan kesepakatan, Musyawarah Daerah baru digelar pada 2020.

“Saya ditunjuk menjadi Plt Ketua Golkar DKI saat kampanye Pemilu akan dimulai. Konsentrasi kita ke sana, bukan kompetisi internal. Setelah Pemilu, kami rapat pleno, dan diputuskan bahwa Musda Golkar DKI akan diadakan pada 2020. Jadi urutannya bagus, Munas dulu dan setelah itu Musda,” ungkap dia.

Yang terpenting, lanjut Rizal, semua keputusan yang diambil merupakan keputusan organisasi yang bersifat kolektif kolegial, bukan keputusan subyektif.

(Arbie Marwan)