Kiev, Aktual.com – Rusia pada Ahad (31/7) mengundang para ahli dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta Palang Merah untuk menyelidiki kematian puluhan tahanan Ukraina yang ditawan oleh para separatis Ukraina dukungan Rusia.

Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memerintahkan semua warga di Donetsk untuk mengungsi dari daerah di Ukraina timur itu.

Ukraina dan Rusia telah saling melemparkan tuduhan soal serangan rudal atau ledakan yang terjadi pada Jumat (29/7) dini hari.

Serangan tersebut tampaknya membunuh puluhan warga Ukraina yang menjadi tawanan perang di Olenivka, kota di garis depan pertempuran di Donetsk timur.

Kemenhan Rusia telah menerbitkan daftar 50 tawanan perang dari Ukraina yang tewas dan 73 yang luka-luka dalam serangan tersebut, yang dikatakan Moskow dilakukan oleh Ukraina menggunakan Sistem Roket Artileri Mobilitas Tinggi (HIMARS) buatan Amerika Serikat.

Angkatan bersenjata Ukraina membantah bertanggung jawab atas serangan itu.

Menurut Ukraina, artileri Rusia-lah yang menyerang penjara itu untuk menyembunyikan perlakuan buruk di fasilitas tersebut.

Rusia, kata kementerian pertahanan negara itu pada Minggu, mengundang para pakar dari PBB dan Palang Merah untuk menyelidiki secara objektif kematian orang-orang tersebut.

PBB mengungkapkan bahwa pihaknya sedang menyiapkan para pakar untuk dikirimkan dan melakukan investigasi jika kedua pihak terkait memberi izin.

Komite Internasional Palang Merah mengatakan sedang berusaha mendapatkan akses dan telah menawarkan bantuan untuk mengevakuasi orang-orang yang terluka.

Presiden Zelenskyy mengatakan ada ratusan ribu orang yang rentan menghadapi pertempuran sengit di Donbas, wilayah timur di Ukraina yang terdiri dari provinsi Donetsk dan Luhansk.

“Banyak di antara merek yang menolak untuk pergi,” ujar presiden Ukraina itu dalam pidato pada Sabtu (30/7) larut malam.

“Kalau semakin banyak orang meninggalkan daerah Donetsk sekarang, akan makin sedikit orang yang akan terbunuh oleh tentara Rusia,” katanya.

Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba mengatakan pada Jumat bahwa Rusia telah melakukan kejahatan perang. Menlu Kuleba meminta masyarakat internasional untuk mengutuk Rusia. (Reuters)

(Antara)

(As'ad Syamsul Abidin)