Oleh: Abdullah

Jakarta, aktual.com – Bagi para pelajar hadist, dan ilmu hadist nama Sayyidi Abdullah bin Shiddiq tidak asing untuk didengar, pasalnya banyak ulama yang kemudian mengulas profil beliau disaat ia masih hidup. Ini tentu menunjukan bahwa ke aliman dan keilmuan beliau memang diakui oleh para ulama lain. Dalam kitab at-Tarjamah as-Sayid ‘Abdullah ibn al-Shiddiq al-Ghumari yang ditulis oleh Syekh Ahmad bin Manshur bin Ismail Qurthom al-Husaini at-Tunisi, Sayyid Abdulloh di nobatkan sebagai hafidz pada masanya.

Dialah Muhaddist, Imam, ahli hukum fundamentalis, Hujjah, dan lautan ilmu, Sidi Abdullah bin Muhammad bin Al-Shidiq bin Ahmad bin Qasim Al-Ghumari Al-Hasani. Garis keturunan beliau berakhir pada Sayyid Idris Al-Akbar bin Abdullah Al-Kamil bin Al-Hasan Al-Mujtaba putra dari Imam Ali karamallahu wajhah.

Adapun ibunya adalah Sayyidah Fatimah putri Sayyid Abdul Hafidz bin Ajiba bin Sayyid Ahmad bin Ajiba, putra dari Sufi dan Imam Sidi Ahmad bin Muhammad bin Al-Mahdi Ibn Ajiba Al-Hasani. Ibunya meninggal Syahid saat melahirkan pada malam Lailatul Qodar 1341 H, disaat usianya masih dibawah empat puluh tahun.

Ia lahir pada 7 Juli 1910 M bertepatan dengan bulan Rajab 1328 H.  dan ayahnya memberikannya nama Muhammad al-Manshur dengan harapan agar ia menjalani kehidupannya dengan penuh kemenangan dan menjadi penolong bagi umat.

Sebagai seorang hafidz, kredibilitas dan kealimanya tidak perlu di ragukan lagi, ketekunan dalam belajar dan rasa cintanya pada ilmu adalah kunci utama kepakarannya dalam ilmu hadist. Tumbuh dalam keluarga Saadah Ghumariyah menjadikan Abdullah akrab dengan ilmu-ilmu agama, ia mendapatkan Pendidikan awalnya di Zawiyah Shiddiqiyah di mulai dari didikan ayahnya sendiri, juga belajar gramatika Arab dan Fiqh dari saudaranya Sidi Ahmad dan dari pamannya Sidi Ahmad bin Ajiba.

Saat usianya menginjak 15 tahun, beliau muliai menghafal Al-qur’an di Kuttab. Ia bertalaqqi dengan Syekh al-Faqih Abdul Karim Barraq al-Afjari dan al-Faqih Muhammad al-Andalusi al-Mushawwari. Seperti umumnya Masyarakat Maroko, ia menghafal dengan riwayat warsy. Ada satu kisah menarik tatkaa ia telah menyelesaikan hafalan Qur’an dan keilmuan islam lainnya, dalam bukunya Sabil al-Taufiq Manakala ia sedang belajar kitab Alfiyah di Universitas Qurowiyyin, Fez, Maroko. Sebagai tambahan informasi bahwa universtas ini merupakan universitas tertua di dunia dan kharismatik, di universitas ini juga telah meluluskan banyak dari ulama terkemuka dan berpengaruh dalam berbagai aspek kehidupan. Sebut saja misalnya; Ibnu Rusyd dan Ibnu Bajja dalam Filsafat, Ibnu Kholdun dalam Sejarah, Ibnu Maimun dalam kedokteran, Syarif al-Idrisi dalam geografi, Ibnu Hazm dalam Sufi. Di universitas ini pula keluarga Al-Ghumariyah belajar ilmu agama. Abdulloh mengadukan kepada ayahnya atas kesulitanya dalam belajar kitab nahwu yang sangat fenomenal tersebut di Indonesia. Lantas Sayyid Muhammad ash-Shiddiq memberi surat balasan:

لا تستعن باحد واحضر الدروس سواء فهمت ام لم تفهم وعن قريب ستفهم والعلم لنا مضمون وانما نسلك سنة الله فى الاخذ والتلقي

“Jangan meminta bantuan kepada siapapun, hadiri semua kajian baik paham atau tidak. Pada waktu dekat engkau akan paham juga. Ilmu itu bagi kita sudah dijamin oleh Allah, kita hanya menjalani sunnatullah dalam mendapatkan ilmu, yaitu dengan mengaji dan bertalaqqi di hadapan guru,”.

Sayid Abdullah lalu melanjutkan kisahnya: Dengan metode Tadarruj (bertahap) beliau bertekad bahwa ia akan mempelajari semua keilmuan Islam, di mulai dengan mencicil dengan Nahwu dulu, kemudian Fikih, Usul Fiqh, dan seterusnya. Namun sang ayah tercinta berkata.

“Umur itu pendek, dengan modal umur pendek kita tidak mungkin mempelajari semua ilmu dengan detail, Karenanya hadiri semua majelis ilmu,” ucapnya.

Diakhir bulan Sya’ban 1249 H, Abdullah bin Shiddiq melanjutkan perjalanan keilmuannya di Al-Azhar Mesir. Bersama sang kakak (Ahmad bin Shiddiq) dan sang adik (Muhammad Zamzami bin Shiddiq) mereka banyak menimba ilmu kepada ulama dari negeri Kinanah tersebut. Diantaranya; Syekh Muhammad Hasanain Makhluf, Syekh Hamid Gaf, Syekh Mahmoud Makhlouf serta beliau juga mengikuti dauroh Syekh Muhammad Bakhit Al-Muta’i.

Dalam kitab Sabilu al-Taufiq fi tarjamati Abdullah bin Shiddiq Sayyid Abdullah menerangkan bahwa salah satu kelebihan madzhab Syafi’I adalah penyebutan dalil di setiap furu’ masalah, yang mana itu tidak ia temukan di madzhab Maaliki. Hal ini ia katakan karena manakala di Mesir ia mempelajari fikih Syafi’i  kepada Syekh Abdul Majid as-Sarqowy.

وقرأت (شرح الخطيب على أبي شجاع) على الفقيه الشيخ عبد المجيد الشرقاوي حفيد الشيخ عبد الله الشرقاوي, وهو يتقن الفقه اتفانا, ووجدت الشافعية يذكرون فى مصنفاتهم الدليل لفروع فقههم, فلا يخلو فرع لهم من دليل بخلاف المالكية, فانهم لا يذكرون فى كتبهم دليل

Ia memperoleh lisensi oleh sejumlah besar ulama, sertifikat International Ghurabaa pada tahun 1933 M. Dan ia juga memperoleh gelar International Al-Azhar pada 1942 M. Hingga ia Kembali ke Maroko 1970 setelah perjuangan ilmiyahnya yang penuh keberhasilan. Dengan semangat inilah Muhammad Ali Clay (petinju international) megungkapkan “Saya berharap saya memiliki jiwa semangat seperti Syekh Abdulloh bin Shiddiq”. DIkutip dari majalah Vicaro

Syekh Abdullah bin Shiddiq termasuk ulama yang produktif mengarang kitab. Karya-karyanya berjumlah seratus judul, antara lain; Bid’ah al-Tafsir, Husnu at-Tafahhum wa ad-Dark li Masalati at-Tark, Samiru as-Sholihin dan lain-lain. Selain mengarang ia juga aktif mengajar, dengan keikhlasan dan ketelatenannya ia berhasil mendidik dan menjadi uswah hasanah bagi murid-muridnya seperti; Syekh Ali Jum’ah, Syekh Yusri Rusydi Gabr, Syekh Abdul Fattah dan lain-lain.

Syekh Abdullah bin Shiddiq telah mengarungi lautan ilmu, karya-karyanya akan selalu menjadi pelita bagi gelapnya dunia. Ia wafat pada Jum’at 19 Sya’ban 1413/ 12 Februari 1993 M. Jasad mulianya dimakamkan di pemakaman Saadah Ghumariyah di Tanger, Maroko. Tepat di samping sang ayah tercinta.

Dari Sejarah singkat ini penulis ingin menggaris bawahi bahwa Ilmu itu harus dibarengi dengan Amal sehingga Khidmat terhadap umat lebih universal, sebagaimana yang dikatakan oleh gurunda Syekh Muhammad Danial Nafis Allohu yahfadzuhu. Dan juga syi’ir arab yang meyatakan bahwa,

من جد وجد, من يزرع يحصد

“Keberhasilan dapat diraih oleh siapa saja yang berusaha dan hal apa saja yang ia lakukan maka itulah yang akan ia tuai hasilnya,”.

Banyak hikmah yang dapat kita petik dari kisah ini. Sekalipun Syekh Abdulloh bin Shiddiq berasal dari keluarga terpandang, tanpa ia barengi dengan keseriusan dan keikhlasan mustahil ia dapat sampai pada titik ini. Pahit getir proses belajar yang telah ia jalani dengan tabah dan sabar telah membuahkan hasil yang manis. Semoga kita semua dapat meneladani beliau dalam setiap keada’an.

 

Artikel ini ditulis oleh:

Editor: Rizky Zulkarnain

Tinggalkan Balasan