Polisi membawa kantong berisi jenazah Nur Rohman, pelaku bom bunuh diri di Mapolresta Solo, Jawa Tengah, Selasa (5/7). Selanjutnya, jenazah pelaku bom bunuh tersebut dibawa ke RS Bhayangkara Semarang untuk diidentifikasi. ANTARA FOTO/Maulana Surya/ama/16.

Jakarta, Aktual.com – Bank Indonesia (BI) menyebut kasus peledakan bom bunuh diri di Mapolresta Surakarta, Jakarta, sehari sebelum Lebaran tak akan ganggu perekonomian nasional secara umum. Pihak BI memprediksi kondisi perekononian akan tetap berjalan normal.

“Saya rasa enggak lah (berdampak ke perekonomian). Aparat keamanan juga sudah dengan sigap mengatasi, jadi dampak kepada kekhawatiran masy juga tidak terlalu banyak,” jelas Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara seusai menghadiri acara halal bi halal di kediaman Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution, di kediamannya, Jakarta, Kamis (7/7).

Sehingga dengan begitu, lanjut dia, aktivitas perekonomian tidakakan kena dampaknya, dan konsumsi masyarakat juga tetap tinggi. “Karena kita juga memang tidak boleh takut dengan ancaman teror. Dan aktivitas ekonomi seharusnya tetap berjalan normal,” tandas Mirza.

Bahkan lebih lanjut, Mirza juga menganggap laju nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat juga tak terpengaruh banyak akibat aksi-aksi seperti itu.

Karena kalau bicara kurs, kata Mirza, pada intinya merupakan cerminan dari fundamental ekonomi, situasi neraca pembayaran, ekspor impor barang dan jasa defisit atau surplus, serta situasi inflasi.

“Kurs itu kaitannya hal-hal yang tadi. Kalau mau kurs stabil atau menguat, ya kita harus usahakan inflasi tetap rendah, neraca perdagangan ekspor impor terus surplus, current account defisit juga terus surplus,” papar dia.

Sejauh ini, pemerintah dan BI sendiri mengasumsikan nilai tukar rupiah di angka Rp13.500 per USD. Sehingga kalau melebihi itu, misal mencapai Rp13.600, maka kurs itu harus menggambarkan fundamental ekonomi.

“Karena kalau kurs terlalu kuat, itu membuat barang impor terasa murah. Dampaknya pedagang akan lebih senang impor dibanding produksi. Dan barang ekspor terasa mahal,” lanjut dia.

Untuk itu, BI akan terus menjaga kurs di level yang wajar. Sehingga bisa mendorong ekspor manufaktur, mencegah impor yang berlebihan, dan tetap menjaga inflasi.

“Karena kalau kurs lemah bisa membuat inflasi dari produk-produk impor menjadi lebih tinggi serta utang luar negeri terlalu besar bebannya. Bagi BI, kurs di level sekarang ini cukup baik,” pungkas Mirza.

()

(Nebby)