Kedatangan Pramono Anung untuk menyampaikan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) ke Komisi Pemberantasan Korupsi setelah menjabat sebagai Sekretaris Kabinet.

Jakarta, Aktual.com — Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung menyebut adanya persamaan antara pelaku korupsi dan narkoba.

“Menurut saya, korupsi itu seperti narkoba. Kalau ketahuan malu tapi ketagihan,” kata Pramono di sela-sela pencanangan dan sosialisasi pembangunan zona integritas Sekretariat Kabinet RI di gedung Sekretariat Kabinet, Jakarta, Selasa (29/3).

Ia mengatakan orang yang melakukan korupsi bukan orang sembarangan dan orang yang memakai narkoba juga bukan orang kekurangan bahkan memiliki materi berlebih.

Menurut dia, korupsi dan narkoba sama-sama sulit diberantas bahkan kedua kejahatan ini tetap terjadi kendati para pelaku telah berada di dalam penjara.

Ia mengatakan genderang perang melawan narkoba terus berlangsung namun narkoba masih ada bahkan di penjara berkali-kali digerebek juga ditemukan narkoba. Hal itu juga terjadi pada kasus korupsi yang sampai saat ini masih ada, katanya.

Pramono juga menyatakan orang yang tertangkap kasus korupsi semisal yang ditangani oleh Komisi Pemberantasan Korupsi biasanya akan menangis saat tertangkap namun kemudian malah bisa tersenyum di depan publik melalui tayangan di layar televisi.

“Ketika datang pertama di KPK nangis-nangis dan mengharu biru. Tetapi di tahapan berikutnya saat sudah memakai jaket oranye (baju tahanan), dia ‘da da da da’ (melambaikan tangan) melihat banyak kamera (wartawan),” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut Pramono juga berbagai pengalaman untuk melindungi dirinya dari kasus korupsi dengan menghindari tempat-tempat yang rawan terjadi korupsi.

Selama empat periode menjadi anggota DPR, Pramono menghindari berada di Badan Anggaran, Komisi III dan Komisi XI dan memilih berada di komisi yang “susah” untuk langkah preventif.

Bahkan saat menjadi pimpinan DPR, dia juga menolak menjadi pimpinan yang mengkoordinasi Badan Anggaran.

Saat menjadi Sekretaris Kabinet Pramono juga menolak bertemu dengan pihak lain terkait dengan pengangkatan jabatan tinggi karena Sekretaris Kabinet juga menjabat sebagai Sekretaris Tim Penilai Akhir (TPA) pejabat tinggi di kementerian dan lembaga negara.

“Ketika saya jadi Sekretaris Kabinet, semua orang ingin betemu, semua ingin hubungi. saya tidak mau bertemu siapa pun sebelum proses diputuskan,” katanya.

Dia memilih dibilang sombong karena enggan bertemu dengan seseorang dibandingkan dengan jadi omongan karena menerima seseorang.

Acara pencanangan zona integritas itu juga dihadiri oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi, Ketua Ombudsman Amzuliani Rivai dan Deputi Pencegahan di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Pahala Nainggolan.

(Antara)

()