Jakarta, aktual.com – Tragedi memilukan menimpa dunia pendidikan di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang siswa kelas IV sekolah dasar berinisial YBS (10) ditemukan meninggal dunia dan diduga gantung diri di dahan pohon cengkeh pada Kamis, 29 Januari 2026.
Peristiwa ini menyisakan duka mendalam sekaligus kembali menyingkap persoalan laten soal kemiskinan, akses pendidikan, dan keadilan sosial yang masih menjadi pekerjaan rumah besar di Indonesia.
Korban ditemukan tergantung dengan seutas tali di dekat pondok sederhana tempat ia tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun. Di sekitar lokasi kejadian, warga menemukan sepucuk surat tulisan tangan yang ditujukan kepada sang ibu.
Menurut keterangan warga, sebelum peristiwa tragis tersebut, YBS sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku tulis dan pulpen. Namun permintaan itu tidak dapat dipenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga.
“Dia sempat minta uang untuk beli buku tulis dan pulpen, tapi ibunya tidak punya uang,” ujar Lipus Djio (47), salah seorang warga setempat.
YBS diketahui tidak tinggal bersama kedua orang tuanya, melainkan hidup bersama sang nenek. Sejumlah warga menilai korban kurang mendapatkan perhatian yang memadai, meski penilaian tersebut masih sebatas kesaksian sosial di lingkungan sekitar.
Kabar duka ini dengan cepat menyebar dan memantik keprihatinan luas, terlebih karena korban masih berusia sangat belia dan tengah menempuh pendidikan dasar.
Pengamat politik **Rocky Gerung** menilai tragedi tersebut sebagai tamparan keras bagi negara, terutama di tengah narasi besar tentang keberhasilan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang kerap digaungkan ke forum internasional.
“Di tengah isu besar seperti pertumbuhan ekonomi, IHSG, dan berbagai jargon pembangunan, publik justru disadarkan oleh peristiwa kecil yang sangat tragis ini,” ujar Rocky, dikutip Selasa (3/2/2026).
Ia menilai ada yang keliru dalam arah kebijakan jika hak dasar anak, seperti buku tulis, tidak mampu dijamin negara.
“Solidaritas kemanusiaan seperti tidak lagi berkemah dalam upaya kita menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera,” katanya.
Rocky juga menegaskan bahwa berbagai analisis makroekonomi, antropologi, hingga psikologi memang dapat dilakukan setelah tragedi terjadi, namun tidak cukup untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.
“Itu semua analisis tentang sesuatu yang sudah terjadi, bukan analisis untuk menghalangi itu terjadi,” ujarnya.
Lebih jauh, Rocky menekankan bahwa buku tulis bukanlah kemewahan, melainkan hak dasar setiap anak.
“Buku tulis adalah hak dia. Itu simbol niat untuk menjadi manusia terdidik, pemimpin masa depan bangsa,” kata Rocky.
Menurutnya, di balik ambisi pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen, masih ada kelompok masyarakat yang tercecer dan luput dari jangkauan kebijakan negara.
“Semua narasi kebesaran bangsa itu runtuh oleh fakta bahwa seorang anak 10 tahun memilih mengakhiri hidup karena ibunya tak mampu membeli buku tulis,” katanya.
Kasus YBS menjadi cermin buram masih lebarnya jurang disparitas sosial, khususnya di wilayah tertinggal. Tragedi ini bukan semata soal satu keluarga miskin, melainkan soal sejauh mana negara hadir menjamin hak dasar anak dan masa depan generasi bangsa.
Peristiwa ini sekaligus menjadi alarm keras bahwa keberhasilan pembangunan tidak bisa hanya diukur dari angka pertumbuhan, tetapi dari kemampuan negara melindungi warganya yang paling rentan.
Artikel ini ditulis oleh:
Rizky Zulkarnain






















