Jakarta, Aktual.co —  Yuko Obuchi, Menteri Perindustrian Jepang berencana mengundurkan diri setelah ia dilaporkan menggunakan sumbangan politik untuk membeli kosmetik. Ini merupakan pukulan telak bagi rencana Shinzo Abe, Perdana Menteri yang ingin membangun ulang pembangkit listrik tenaga nuklir.

Kepada beberapa pejabat yang dekat dengan Abe, sebagaimana diberitakan oleh Nikkei, Obuchi telah mengutarakan akan mundur pada Sabtu (18/10), sepulang PM Abe dari KTT mimpin Asia-Eropa.

Yuko Obuchi, adalah tokoh perempuan pertama yang September lalu diangkat menjadi Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri, jabatan strategis vital di Jepang yang mencakup pengawasan terhadap sektor energi.

Obuchi juga sosok paling menonjol di antara sesama tokoh perempuan lain yang juga dipilih oleh PM Abe untuk menduduki sejumlah posisi dalam kabinetnya. Bahkan dia pun diperkirakan akan berpeluang menjadi perdana menteri selanjutnya.

Namun, Obuchi kini menghadapi tuduhan bahwa selama lima tahun terakhir sejak 2012, badan pendanaan politik yang dipimpin olehnya telah memboroskan 10 juta Yen lebih (setara US$ 95.000 untuk membeli beberapa produk yang tidak berhubungan dengan kepentingan politik. Termasuk juga pembelian kosmetik dan aksesoris, dari sebuah pusat perbelanjaan.

Sebelumnya, surat kabar Mainichi Shimbun menyebutkan, organisasi politik yang dipimpin Obuchi menghabiskan dana sebesar 3,62 juta Yen di sebuah butik yang dikelola oleh suami dari kakak Obuchi.

Laporan dari surat kabar lain menyatakan, organisasi lainnya yang dipimpin Obuchi telah menghabiskan sekitar 26 juta Yen untuk membeli tiket teater bagi para pendukungnya.

Sementara itu, aturan pendanaan politik di Jepang tidak secara eksplisit melarang pengeluaran dana politik untuk promosi, kecuali tindak penyuapan secara langsung.

Peraturan itu umumnya ditafsirkan untuk memungkinkan pengeluaran dana politik untuk biaya operasional kantor dan promosi individu.

“Saya sadar bahwa saya tidak mungkin mengabaikan masalah ini dengan mengatakan saya tidak tahu,” kata Obuchi kepada komite parlemen Jepang bidang ekonomi dan industri pada Jumat (17/10). Ia pun berjanji akan diadakan penyelidikan menyeluruh mengenai kasus tersebut.

Obuchi, putri seorang mantan perdana menteri Jepang ini, memiliki kredensial politik yang solid. Namun citra baik itu mungkin terciderai akibat dugaan penyalahgunaan dana politik itu.

Namun, bila Obuchi mengundurkan diri, hal itu akan menjadi pukulan politik pertama bagi Abe sejak ia mengambil alih kekuasaan pada Desember 2012.

Politisi berusia 40 tahun itu merupakan sosok berprofil terbaik di antara lima wanita yang sama-sama masuk jajaran pemerintahan selama perombakan kabinet baru-baru ini. Penunjukkan Obuchi (sebagai menteri) dipandang sebagai bagian dari upaya PM Abe untuk menambah kesertaan perempuan dalam pemerintahan, di tengah kampanye untuk meningkatkan partisipasi wanita dalam ketenagakerjaan secara umum.

Dengan citra pribadinya yang bersih, Obuchi telah ditugaskan untuk meyakinkan publik Jepang yang skeptis mengenai pentingnya pembangkit listrik tenaga nuklir. Setelah musibah di Fukushima saat tsunami menerjang reaktor-reaktor nuklir pembangkit listrik tiga tahun yang lalu, masyarakat Jepang masih belum yakin atas keamanan dalam menggunakan kembali teknologi nuklir tersebut.

Guna mendukung rencana Abe itu, Obuchi menyatakan bahwa sebagai negara yang miskin sumber daya, Jepang harus bertindak realistis terkait kebutuhan energinya.

()

()