Kampanye negatif di dunia internasional, yang anti terhadap produk kopi luwak, cukup berdampak merusak bagi produser kopi luwak. Digambarkan dalam kampanye negatif itu, seolah-olah luwak-luwak tersebut “tersiksa” karena dipaksa menghasilkan kopi luwak. Padahal tidak semua pengusaha kopi luwak memproduksi secara ceroboh. Maka kampanye negatif itu perlu dilawan dengan kampanye tandingan.

Hal itu diungkapkan CEO PT. Sinar Mayang Lestari, Slamet Prayoga, yang perusahaannya juga menghasilkan kopi luwak, kepada wartawan Aktual.com, Satrio Arismunandar di Baghdad, Selasa (3/10). Prayoga datang mewakili perusahaan dan membawa contoh produk kopinya di pameran perdagangan Baghdad International Fair ke-42 di Irak.

Prayoga mengaku sudah membuat tayangan video, yang ditunjukkannya dalam presentasi di berbagai negara tempat ia memasarkan kopinya. Lewat video itu, Prayoga ingin membuktikan bahwa kopi luwak yang diproduksinya dilakukan secara layak dan tidak menyakiti luwak. Misalnya, kandang untuk luwak dibikin besar sehingga luwak-luwak itu bisa bergerak bebas dan leluasa. Jadi, bukan kandang kecil dan sempit, seperti yang diklaim oleh pelaku kampanye negatif.

Biji kopi, menurut Prayoga, sebenarnya hanyalah makanan tambahan bagi luwak yang ia tangkarkan. Makanan utama adalah ayam dan belut. Belutnya pun harus hidup. Luwak tak mau makan belut mati. Sesudah sore, barulah luwak mau makan tambahan, yaitu biji kopi. Dari 1 kg biji kopi yang dimakan luwak, hanya menghasilkan 8 persen kopi luwak, atau sekitar 80-100 gram. Prayoga memiliki 50 ekor luwak.

Dalam memproduksi kopi, Prayoga memiliki kebun sendiri. Luas kebun sendiri ada 70 hektar, sedangkan kebun binaan sekitar 300 hektar. Prayoga memproduksi kopi luwak hasil penangkaran. Penangkaran itu terletak juga di sekitar kebun kopi di Pengalengan, Jawa Barat. “Namun produksi kita belum banyak,” ujarnya.

Prayoga menjelaskan, pihaknya sudah meneken kontrak dengan salah satu pasar swalayan premium di Indonesia, yang mengambil langsung produk kopi luwaknya, sehingga Prayoga tidak bisa secara bebas memasarkannya ke luar. “Yang kita khawatirkan adalah karena produksinya masih sedikit. Saya takut tak bisa memenuhi sesuai kontrak, karena produksi kopi luwaknya baru 20-25 kg per bulan,” sambungnya. ***

Artikel ini ditulis oleh: