Aksi Protes Sentimen Anti-Asia di Amerika Serikat, pertengahan Maret lalu (AFP)

Pembunuhan mengejutkan terhadap delapan (8) warga Atlanta di area bisnis panti pijat (Spa) pada pertengahan Maret lalu menjadi awal mula kekhawatiran atas serangan terhadap etnis Asia di Amerika Serikat (AS). Dilansir dari VOA Indonesia, pembunuhan itu dilakukan Robert Aaron Long, pemuda berusia 21 tahun.

Sejak saat itu, sejumlah pihak mulai khawatir sentimen rasial menjadi motif kekerasan atau pembunuhan yang terjadi pada orang Asia di Amerika.

Para pemimpin Gereja Kristen Asia-Amerika menjadi salah satu pihak yang menuntut tragedi pembunuhan tersebut sebagai pintu masuk untuk melakukan seruan perlawanan terhadap aksi kekerasan yang meningkat.

Dilansir dari Associated Press, seorang Pastor Kepala Gereja Presbiterian Pusat Korea di Atlanta bernama Byeong Han, mengatakan kepada jamaahnya untuk segera bertindak mengakhiri tindakan kekerasan ini. Menurutnya, aksi kekerasan ini harus berhenti dan tidak menurun ke generasi berikutnya.

“Tidak hanya berdoa, ini waktunya untuk kita bertindak. Saya akan mendorong orang-orang dengan cinta dan perdamaian bahwa kita perlu maju dan mengatasi masalah ini agar generasi kita berikutnya tidak boleh terlibat dalam kekerasan yang tragis,” kata dia dalam sebuah khotbah Minggu, akhir Maret lalu.

Nasib WNI

Warga Negara Indonesia (WNI) di Amerika juga tidak luput dari ancaman kekerasan di sana. Dilaporkan VOA Indonesia pada 21 Maret lalu, dua (2) remaja Indonesia mendapatkan kekerasan secara fisik dan verbal oleh sekelompok orang tanpa alasan yang jelas saat menunggu kereta api di Stasiun City Hall, Philadelphia.

Kedua remaja Indonesia ini mengatakan tiba-tiba sekelompok remaja lain datang, bicara dengan kata-kata kasar dan menampar wajah mereka.

“Ada yang menampar bagian kanan wajah teman saya dan ia menangis. Lainnya ada yang memukuli bagian kiri kepala saya berkali-kali,” ujar gadis yang menolak disebut identitasnya.

Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di New York menyampaikan keprihatinan kepada pemerintah Philadelphia terkait serangan yang dialami dua remaja ini. Konjen RI Arifi Saiman juga menanyakan tindak lanjut penyelidikan kasus serangan ini.

KBRI di Washington DC dan KJRI se-Amerika juga mendesak hal yang sama. Secara bersamaan, mereka juga menyampaikan WNI untuk bersikap tenang namun tetap waspada. KBRI juga mendorong warga Indonesia untuk melaporkan insiden dan kekerasan bermotif rasial kepada otoritaS setempat.

KBRI kemudian menegaskan bahwa bersama seluruh kantor konsulat jenderal di New York, Chicago, Houston, Los Angeles dan San Fransisco, telah dan akan terus berkoordinasi dengan otoritas setempat. KBRI mengaku senantiasa melakukan komunikasi dengan simpul-simpul masyarakat untuk memastikan keamanan dan keselamatan WNI dan masyarakat Indonesia di Amerika.

Bertahan dengan Membela Diri

Mayoritas WNI khawatir dengan meningkatnya serangan dan sentimen anti Asia di Amerika. Kekhawatiran terhadap ancaman itu bahkan jauh lebih tinggi daripada pandemi Covid-19.

“Kalau dibanding sebelum COVID-19, saya merasa harus lebih waspada,” ujar Robert Cratius, diaspora Indonesia berumur 40 tahun yang menetap di Philadelphia.

Henny Kusumawati, yang sudah 10 tahun tinggal di Amerika dan kini menetap di Atlanta, juga merasakan hal yang sama. Dirinya semakin khawatir dengan kejadian yang terus berulang belakangan ini.

“Terus terang perasaan saya bercampur. Yang terutama rasa sedih karena sejak awal saya menginjakkan kaki di sini, semua welcome. Tidak pernah ada rasisme atau peristiwa apapun. Bahkan ketika negara-negara bagian lain dilanda sentimen anti-Asia, di sini tidak terjadi apa-apa. Kok sekarang begini? Saya jadi waspada ke tempat-tempat yang saya tidak familiar,” keluh dia.

Robert dan Wulan yang sedang mempersiapkan anaknya untuk kembali bersekolah juga kian khawatir. Kejadian sentimen Anti Asia kali ini semakin membuat mereka khawatir atas  sejumlah kemungkinan buruk yang bakal terjadi.

Bullying sudah jadi masalah sejak lama di sini. Saya khawatir ini akan menjadi lebih parah dengan adanya masalah COVID-19 di mana orang Asia dijadikan kambing hitam,” papar Robert.

Sementara Wulan tidak saja khawatir pada putrinya, tetapi juga anak-anak Asia lain. “Kebetulan muka anak saya gak terlalu Asia banget dan sejauh ini dia bersahabat dengan teman-teman sekelasnya. Secara keseluruhan saya tidak khawatir sama dia, tapi saya khawatir dengan anak Asia di sekolah-sekolah lain,” ungkapnya.

Sejumlah WNI di Amerika akhirnya mengambil langkah sendiri untuk membangun rasa aman mereka. Mulai dari hal-hal kecil hingga langkah-langkah antisipatif yang agak berlebihan.

Maryam Barokah dan Ibundanya (Dok: Pribadi)

Maryam Barokah, pelajar kelas 8 SMP Smart’s Mill memiliki cara tersendiri. Dia memilih untuk mengirim email kepada Kepala Sekolah-nya usai insiden penembakan di kota Atlanta, dimana mayoritas korban tewas adalah keturunan Asia. Maryam menuliskan harapan agar sang Kepala Sekolah membantu meningkatkan kesadaran para siswa mengenai kejadian tersebut.

Hasilnya menarik. Setelah laporan via email yang dibuatnya, Maryam mengklaim semakin banyak pelajar, baik di sekolahnya sendiri maupun di SMP dan SMA di sekitarnya, lebih tanggap terhadap sentimen anti-Asia. Termasuk diantaranya dengan mengunggah atau membahas isu terkait yang sedang terjadi di AS itu.

Lain halnya dengan Carina Subagio yang telah menetap di Atlanta, Georgia sejak 2007 lalu. Dia merasakan sentimen anti-Asia memang betul betul meningkat sejak pandemi Covid-19 mulai merebak dalam dua tahun terakhir.

Namun perempuan yang sebelumnya tinggal di negara bagian Virginia itu mengaku sudah terbiasa membawa pepper spray (semprotan cabai) untuk berjaga-jaga, terutama sewaktu memarkir mobil yang jauh dari tempat tujuannya.

Apa yang dikhawatirkan Carina dan suaminya adalah betapa mudahnya orang membeli senjata api di Amerika. Pasangan Indonesia-Bangladesh ini sendiri telah sejak tahun 2019 berusaha mendapatkan lisensi kepemilikan senjata api.

Setelah pandemi merebak, latihan mulai terhenti. Begitu penembakan di Atlanta terjadi, Carina diingatkan suaminya untuk berlatih menembak bersama-sama lagi.

“Kebetulan ada kelompok di masjid yang berlatih menembak dengan pengajar perempuan dan saya ikut berlatih,” jelasnya.

Faktor Sakit Jiwa

Captain Tommy Ng (Twitter)

Awal April lalu, Kepala Satuan Tugas yang mengatasi kejahatan bermotif kebencian terhadap warga Asia di Kepolisian New York, Tommy Ng mengatakan riwayat sakit jiwa (pernah mengalami gangguan kejiwaan) merupakan faktor yang umum yang muncul pada mayoritas tersangka yang ditangkap dalam berbagai serangan terhadap warga Asia di kota itu.

Inspektur Tommy Ng menyimpulkan hal tersebut dari serangan terhadap seorang perempuan Asia berusia 65 tahun yang terjadi pada 29 Maret lalu. Serangan itu terekam kamera keamanan, dimana tersangka pelaku memukul perempuan itu dan menginjak-injaknya.

Menurut Ng, serangan juga terjadi karena faktor pengkambinghitaman warga Asia sebagai penyebab pandemi virus corona di Amerika. Kondisi tersebut semakin meningkatkan sentimen rasis terhadap warga Asia beberapa waktu belakangan.

Akan tetapi Wakil Direktur Asian-American Federation Joo Han mengatakan kepada Associated Press, banyak orang dalam komunitas Asia yang tidak percaya pada aparat penegak hukum. Ia mempelopori upaya untuk melatih tim sukarelawan untuk menurunkan ketegangan rasial yang sedang terjadi.

Beberapa kantor berita melaporkan hingga saat ini ada 35 kejahatan bermotif kebencian di New York di mana korbannya adalah warga Asia. Fenomena ini meningkat tajam bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang hanya berjumlah 11 kejadian.

Langkah Gedung Putih

Presiden AS Joe Biden dan Ibu Negara Jill Biden (VOA Indonesia)

Gedung Putih tentu tidak berdiam diri atas peristiwa ini. Dibawah komando langsung Presiden Joe Biden, Gedung Putih yang sempat dikecam kalangan masyarakat karena tidak melakukan upaya yang cukup, kemudian mengambil kebijakan untuk mengaktifkan kembali White House Initiative on Asian Americans and Pacific Islander (WHIAAPI). Inisiatif yang pernah digagas pada pemerintahan Bill Clinton tersebut memang dimaksudkan untuk memperkuat keberpihakan kepada komunitas Asia di Amerika.

Presiden Biden rencananya juga akan menunjuk seorang koordinator untuk kebijakan-kebijakan serupa WHIIAPI di seluruh pemerintah federal. Sebelumnya, para penggiat komunitas ini memang telah menyampaikan permintaan tersebut.

Gedung Putih juga mengalokasikan sekitar 50 juta dollar bagi warga Asia penyintas kekerasan domestik dan serangan seksual. Sebagian anggaran itu juga akan digunakan untuk membentuk Satgas Kesetaraan COVID-19 guna mengatasi xenophobia terhadap warga Amerika keturunan Asia, yang ekonomi komunitasnya paling terpukul dalam pandemi virus corona ini.

Pertengahan Maret lalu, Presiden Joe Biden dan Wakil Presiden Kamala Harris yang terbang ke Atlanta, menyampaikan langsung rasa belasungkawa kepada korban dan komunitas Asia di Amerika. Mereka kembali menyampaikan komitmen untuk melawan pelecehan dan kekerasan terhadap warga Asia di Amerika.

“Sikap diam adalah pembiaran. Kita tidak dapat membiarkan hal ini. Mereka (warga Amerika keturunan Asia) telah diserang, dipersalahkan, dikambinghitamkan dan dilecehkan,” ujar Biden dengan tegas. (Voa Indonesia | Nurman Abdul)

(Megel Jekson)