Jakarta, Aktual.com – Tepat pada tanggal 1 Agustus 2021 telah wafat seorang syekh dari thariqah Darqowiyah Syadziliyah Qodiriyah di Cape Town, Afrika Selatan. Berikut adalah biografi ringkas dari sang Mursyid tersebut.

Sebelum masuk Islam Beliau memiliki nama Ian Dallas yang lahir di Ayr, Skotlandia pada tahun 1930. Ia tumbuh dan dibesarkan di lingkungan Eropa dan mayoritas di sana merupakan pemeluk Kristen. Beliau menamatkan pendidikannya di Royal Academy of Dramatic Arts, London University dan memulai karirnya sebagai penulis drama.

Kehidupan masa mudanya Ia habiskan sebagai aktor dan sempat berakting dalam film 8½ karya Federico Fellini sebagai “Il partner della telepata”. Bahkan ia juga sempat dikontrak oleh BBC sebagai penulis naskah sandiwara dan drama.
Ketertarikan Ian Dallas terhadap Islam bermula ketika dia melakukan perjalanan ke Maroko. Selama di Maroko, dia banyak berinteraksi dengan komunitas Muslim setempat, terutama kalangan pengikut tasawuf.

Setelah masuk Islam dihadapan Abdul Karim Daudi, Imam Masjid Qarawiyin dan Alal as-Fasi pada tahun 1967 di Fes, Maroko. Ia mengubah namanya menjadi Abdul Qodir dan berbait thariqah Darqawi kepada Muhammad ibn al-Habib.

Bersama gurunya inilah ia mendapatkan gelar As-Sufi. Sebagai murid, ia menemani gurunya menjelajahi Maroko dan al-Jazair untuk mempelajari tasawuf di hadapan Sidi Hamud bin al-Bashir dan Sidi Fudul al-Huwari as-Sufi.

Di masa-masa inilah beliau memiliki pengalaman spiritual yang sangat luas serta membuka cakrawalanya terkait ajaran tasawuf dan keislaman. Pengalamannya tersebut tidak lain karena dibawah bimbingan seorang syekh besar yaitu gurunya Muhammad bin al-Habib.

Setelah kembali ke Eropa dari perjananan spiritualnya di Maroko, Abdul Qodir menuju ke Benghazi, Libya, bersama syekh al-Fayturi. Di sini, dia melalukan proses spiritual dengan cara menyepi dan mengasingkan diri yang dikenal dengan Khalwat. Tak lama setelah itu, dia mendeklarasikan sebagai mursyid Thariqah Darqawiyah.

Sejak saat itu, Syekh Abdul Qodir as-Sufi membuat sebuah komunitas-komunitas Muslim di kota-kota Eropa seperti Spanyol, Inggris, Denmark, Italia dan yang lainnya. Ia mendidik kaum Muslim eropa tentang ajaran agama, mendorong kaum laki-laki ataupun perempuan untuk membina karakter-karakter, serta mengeratkan silaturahmi di antara komunitas-komunitas tersebut

Apa yang telah dibentuk oleh Syekh Abdul Qodir as-Sufi ini menghasilkan suatu yang sangat menggemberikan. Dalam tempo waktu tiga dasarwarsa terakhir banyak sekali orang-orang eropa yang mendeklarasikan keIslamannya.

Itulah biografi ringkas dan sedikit kisah perjalanan dari seorang mursyid besar. Semoga Allah SWT mempertemukan beliau dengan kekasihnya Nabi Muhammad SAW dan kita mampu mengambil pelajaran berharga dari beliau.
Waallahu a’lam.

(Rizky Zulkarnain)

(Arie Saputra)