Bandung, aktual.com – Dinas Kesehatan Jawa Barat mendorong petugas kesehatan di wilayah dengan peningkatan kasus campak untuk segera melaksanakan Outbreak Response Immunization (ORI). Program ini merupakan imunisasi campak bagi seluruh anak usia 9 hingga 59 bulan tanpa melihat status imunisasi sebelumnya, sebagai langkah pengendalian penyebaran penyakit.
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Vini Adiani Dewi, mengatakan hingga 19 Maret 2026 terdapat dua wilayah yang akan melaksanakan ORI pada April 2026, yakni Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Garut. Pelaksanaan ini dilakukan seiring meningkatnya kasus campak di kedua daerah tersebut.
Sebelumnya, ORI juga telah dilaksanakan pada Februari 2026 di Kabupaten Garut, tepatnya di sejumlah puskesmas seperti Cimaragas, Bagendit, dan Cibiuk.
Selain ORI, Dinas Kesehatan juga menggencarkan Catch up Campaign (CUC), yakni imunisasi campak rubella bagi anak usia 9 hingga 59 bulan yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.
Program CUC saat ini dilaksanakan di delapan daerah, yaitu Kota Bogor, Kota Depok, Kota Bandung, Kota Bekasi, Kota Cirebon, Kabupaten Bogor, Kabupaten Cirebon, dan Kabupaten Subang. Hingga kini, pelaksanaannya masih berlangsung untuk mencapai target cakupan 100 persen.
Vini memastikan ketersediaan vaksin campak rubella (MR) mencukupi untuk mendukung pelaksanaan ORI dan CUC di seluruh wilayah Jawa Barat.
“Apabila terjadi kekurangan vaksin, puskesmas dapat meminta ke Dinas Kesehatan Provinsi Jabar,” ujarnya, Rabu (1/4/2026).
Saat ini, puskesmas juga tengah menunggu distribusi alat suntik auto disable syringe (ADS) dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk mendukung pelaksanaan ORI. Alat tersebut telah melalui proses pemeriksaan dan siap didistribusikan ke provinsi.
Dinas Kesehatan juga mengimbau seluruh fasilitas layanan kesehatan, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit, untuk segera melaporkan setiap kasus suspek campak dalam waktu 24 jam ke dinas kesehatan kabupaten/kota setempat.
Jika ditemukan kasus suspek, tenaga kesehatan diminta melakukan penanganan sesuai prosedur, seperti isolasi minimal tujuh hari sejak munculnya ruam, pemberian vitamin A sesuai dosis usia, serta memastikan asupan makanan bergizi tinggi protein dan kalori. Penerapan perilaku hidup bersih dan sehat juga menjadi bagian penting dalam penanganan.
Sementara itu, masyarakat diimbau untuk memeriksa kembali status imunisasi anak. Jika belum lengkap, masyarakat diminta segera melengkapinya melalui posyandu, puskesmas, atau fasilitas kesehatan lainnya.
Imunisasi campak sendiri diberikan sebanyak tiga kali, yakni pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan saat anak duduk di kelas 1 SD atau sederajat. (Humas Pemprov Jabar)

















