Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Korps Reaksi Cepat (KRC) Kammi melakukan aksi theaterikal perang saudara Aleppo Suriah, di Car Free Day (CFD), Jakarta, Minggu (15/5/2016). Selain aksi theaterikal Koprs Reaksi Cepat (KRC) Kammi melakukan penggalangan dana untuk para korban perang saudara di Aleppo, Suriah.

New York, Aktual.com- Keluarga Marie Colvin, wartawan Amerika Serikat terbunuh di Suriah pada 2012, melayangkan gugatan kematia tidak wajar di pengadilan AS, menuduh pemerintah Suriah sengaja membunuhnya, kata harian “New York Times” pada Sabtu (9/7).

Colvin bersama juru foto asal Prancis Remi Ochlik tewas dalam kepungan pasukan pemerintah di kota Homs pada 2012.

Pada saat itu, keduanya meliput perang di Suriah, yang kini memasuki tahun keenam.

Gugatan itu, yang didaftarkan di pengadilan wilayah Washington, menyebut pemerintah Suriah sengaja mengarahkan roketnya ke stasiun siar darurat, tempat Colvin dan wartawan lain bekerja dan tinggal untuk sementara.

Tuntutan itu, yang alamat tautannya dilansir “New York Times”, menunjukkan serangan tersebut adalah gerakan tergalang pejabat tinggi Suriah untuk membungkam media dalam negeri dan internasional dan upaya tersebut dianggap sebagai upaya menghancurkan langkah oposisi politik pemerintah.

Kelompok pembela korban dari Wartawan Tanpa Batas (RSF) ikut mendukung gugatan tersebut.

Sekretaris Jenderal RSF Christophe Deloire mengatakan berharap gugatan itu mengungkapkan kebenaran bahwa korban sengaja disasar dan dibunuh karena memiliki keterangan mengenai kejahatan tentara Suriah terhadap warga.

Penyelidikan kasus pembunuhan dan percobaan atasnya telah dilakukan di Prancis pada 2012 terkait kematian Ochlik, serta wartawan lain yang terluka akibat serangan sama, Edith Bouvier.

RSF sebagai pihak terlibat dalam perkara itu menyatakan, gugatan keluarga Colvin akan diserahkan ke pengadilan Prancis, yang menyelidiki perkara tersebut pada Senin.

Colvin dan Ochlik merupakan wartawan perang yang meraih banyak penghargaan atas liputan konflik di Timur Tengah, Asia, dan wilayah lain.

Colvin, yang banyak tinggal di Inggris, kehilangan satu matanya saat meliput di Sri Lanka pada 2001. Ia dikabarkan bekerja untuk “Sunday Times” pada waktu kematiannya di Suriah.

()