Maulana Syarif Sidi Syaikh Dr. Yusri Rusydi Sayid Jabr Al Hasani saat menggelar Ta’lim, Dzikir dan Ihya Nisfu Sya’ban (menghidupkan Nisfu Say’ban) di Ma’had ar Raudhatu Ihsan wa Zawiyah Qadiriyah Syadziliyah Zawiyah Arraudhah Ihsan Foundation Jl. Tebet Barat VIII No. 50 Jakarta Selatan, Jumat (19/4/2019). AKTUAL/Tino Oktaviano

Syeikh Yusri Jabr al-Hasani as-Syafii adalah seorang yang jika sedang berbicara tentang Rasulullah Saw seakan adalah orang yang hidup sezaman dengannya. Namun Syeikh juga mengatakan bahwa: “di zaman ini tidak mungkin kita menerapkan kehidupan persis dengan kehidupan Nabi Saw, karena zaman sudah berubah, kehidupan kita sangat amat berbeda dengan kehidupan Nabi Saw. Tapi yang benar dan mungkin adalah menerapkan kehidupan dengan metode kenabian”.

Itulah sepenggal jawaban Syeikh Yusri atas suatu pertanyaan di hari jumat kemarin. Dari jawaban itu saya jadi memahami mengapa Syeikh Yusri berpendapat bahwa Thibbun Nabawi adalah gaya hidup seperti Nabi, bangun pagi hari, tidak tidur larut malam, rajin berpuasa, dan sebagainya.

Thibbun Nabawi menurut beliau adalah gaya makan seperti Nabi, makan sebelum lapar berhenti sebelum kenyang, makan perlahan, menjauhi makanan yang diharamkan karena makanan yang diharamkan itu juga berbahaya bagi kesehatan.

Thibbun Nabawi bukan seperti yang diklaim banyak orang bahwa ia hanyalah tentang berbekam, minum madu, herbal dan sebagainya. Syeikh Yusri juga mengatakan bahwa bekam itu adalah untuk pengobatan bukan pencegahan, jadi tidak sedikit-sedikit bekam, tidak ada penyakit bekam dengan dalih hanya ialah pengobatan yang sesuai sunah. Beliau bahkan mengatakan bahwa dalam beberapa kondisi berobat dengan pengobatan resep dari dokter lebih baik dalam mengobati suatu penyakit daripada obat-obat herbal, karena jelas obat-obat kimiawi tersebut telah melewati sejumlah penelitian dan uji klinis sehingga tepat dosis dan sasarannya.

Berobatlah dengan pengobatan yang sesuai dengan zamanmu. Itulah mengapa beliau juga berpendapat bahwa vaksin itu boleh, karena tujuan vaksin adalah mencegah bahaya (daf’u dharar) dan menurut suatu kaidah dalam ushul fiqih bahwa adhararu yuzalu (bahaya bisa dihilangkan), dan mencegah bahaya diperintahkan oleh agama.

Syeikh Yusri saat berpendapat bahwa rokok itu haram mengatakan bahwa merokok menyebabkan uang habis pada hal yang tidak perlu, padahal Al-Quran melarang manusia dari pemborosan. Merokok sangat berbahaya bagi kesehatan bahkan kematian, padahal Allah memerintahkan kita untuk tidak menjerumuskan diri pada kebinasaan. Rokok itu membuat candu, dan Nabi Saw melarang kita nyandu pada hal apapun di dunia ini, tutup Syeikh. Inilah yang dimaksud beliau dengan menerapkan nilai-nilai Islami dan metode pengobatan ala Nabi dalam kehidupan di zaman ini.

Karena itulah saat dars hari jumat, setelah dzikir sore selesai kami biasa makan bersama disana dengan lauk daging ayam atau daging sapi dan kambing, “saya tidak menganut pendapat yang mengharamkan diri dari protein hewani. Yang tidak baik itu bukan dagingnya, tapi yang tidak baik itu adalah jika mengkonsumsi terus menerus”. Sungguh, setiap lauk yang kami makan di masjid Asyraf selalu nikmat dan sangat lezat karena penuh dengan berkah doa beliau.

Dan tentu saja beliau adalah dokter sekaligus syeikh yang mengobati jiwa kami lebih dari mengingatkan akan pengobatan fisik. Beliau berulang-ulang memberikan pengobatan ruhani dan menanamkan mental muslim yang berakhlak karimah. Beliau selalu mengingatkan untuk bersabar jika sedang tertimpa musibah, membersihkan hati dari segala nafsu duniawi, menjadikan dzikrullah sebagai penghias hati, memaafkan jika ada orang mendzalimi, bahkan menasehati kami untuk selalu mendoakan kebaikan bagi saudara sesama muslim meski jika ia berbuat buruk kepada kami. Dan tentu tak pernah sekalipun beliau lupa menanamkan kecintaan kepada Nabi Saw, karena ialah obat dari segala penyakit.

Semoga Allah menjaga Syeikh kami, dr. Yusri Jabr dan mengumpulkan kami kembali bersama Rasulullah Saw.

 

Sumber Tulisan: Ustadzah Sheila Ardiana, Lc,. M.A

(As'ad Syamsul Abidin)