Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen tiba untuk menghadiri KTT para pemimpin Uni Eropa, ketika para pemimpin Uni Eropa berusaha untuk menyepakati sanksi minyak Rusia sebagai tanggapan atas invasi Rusia ke Ukraina, di Brussels, Belgia 30 Mei 2022. ANTARA/REUTERS/Johanna Ger

Brussel, Aktual.com – Para pemimpin Uni Eropa pada Jumat (24/6) waktu setempat dijadwalkan mendiskusikan langkah untuk menangani lonjakan harga energi dan ancaman penghentian total pasokan gas dari Rusia.

Mereka menuduh Moskow telah “menjadikan energi sebagai senjata” melalui penyempitan pasokan, yang diwanti-wanti Jerman dapat menghentikan industrinya sebagian pada musim dingin ini.

Satu hari usai perayaan terkait keputusan EU untuk menjadikan Ukraina sebagai kandidat negara anggota blok itu, konferensi tingkat tinggi pada Jumat di Brussels diperkirakan akan menjadi cerminan yang menyadarkan terkait dampak ekonomi dari invasi Rusia atas Ukraina.

Para pemimpin 27 negara anggota Uni Eropa, menurut rancangan pernyataan KTT yang dilihat oleh Reuters, akan menyalahkan peperangan yang dimulai empat bulan lalu itu sebagai penyebab lonjakan harga dan perlambatan pertumbuhan global.

Menyusul sanksi Barat yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang dijatuhkan atas invasi Rusia terhadap Ukraina, puluhan negara Eropa sejauh ini telah terpukul oleh pemutusan aliran gas dari Rusia.

“Hanya masalah waktu sebelum Rusia menutup semua pengiriman gas,” kata seorang pejabat Uni Eropa menjelang pembicaraan pada Jumat.

Menteri Ekonomi Jerman Robert Habeck memperingatkan negaranya berada di titik menuju kekurangan gas jika pasokan Rusia tetap rendah seperti yang terjadi saat ini, dan beberapa industri harus ditutup pada musim dingin.

“Perusahaan harus menghentikan produksi, memberhentikan pekerja mereka, rantai pasokan akan runtuh, orang akan berutang untuk membayar tagihan alat pemanas mereka,” katanya kepada majalah Der Spiegel.

Dia menambahkan bahwa hal itu adalah bagian dari strategi Presiden Rusia Vladimir Putin untuk memecah negara tersebut.

Uni Eropa mengandalkan Rusia untuk 40 persen dari kebutuhan gasnya sebelum perang -naik menjadi 55 persen untuk Jerman. Kondisi itu menyebabkan celah besar yang perlu diisi di pasar gas global yang sudah ketat. (Reuters)

(Antara)

(As'ad Syamsul Abidin)