Aceh Besar, Aktual.com – Laboratorium Penyakit Infeksi Unsyiah Darussalam Banda Aceh menyatakan hingga saat ini telah menguji sebanyak 14.918 sampel dan 23,6 persen terkonfirmasi positif COVID-19.

Manager Operasional Laboratorium Penyakit Infeksi Unsyiah Dr. Ichsan, Di Banda Aceh, Selasa mengatakan angka “positive rate” dari hasil pengujian Lab Unsyiah tersebut tergolong tinggi, di mana dengan positive rate 23,6 persen, berarti ada 3.519 sampel dari Lab Unsyiah yang terkonfirmasi positif COVID-19.

“Jumlah ini telah jauh melampaui rasio ambang batas positif yang telah ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) yaitu 5 persen, sebab dengan angka tersebut maka penyebaran COVID-19 masih bisa terkendali. Namun jika sudah lebih 5 persen maka pandemi ini akan sulit untuk dikendalikan,” katanya.

Menurut dia, data tersebut patut menjadi perhatian kita bersama, karena semua ini menunjukkan bahwa wabah COVID-19 khususnya di Aceh semakin tidak terkendali.

Ichsan menyebutkan bahwa saat ini Lab Unsyiah mampu melakukan pengujian sebanyak 520 sampel dalam sehari. Hal ini tidak lepas dari dukungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), yang telah memberikan bantuan berupa satu unit mesin Real-Time PCR System dengan 48 Wells.

Rektor Unsyiah Prof Samsul Rizal menilai keberadaan Lab Unsyiah telah memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya memutus mata rantai COVID-19 di Aceh.

Selain itu, Rektor juga menilai angka positive rate dari Lab Unsyiah ini bisa saja lebih tinggi jika jumlah pengujian sampel swab dilakukan lebih banyak lagi.

karena itu, Rektor sangat setuju dengan usulan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) beberapa waktu lalu, yang mengusulkan perlunya uji swab secara massal di tempat keramaian.

“Unsyiah siap mendukung swab massal di tempat tertentu, seperti warung-warung kopi, sehingga kita bisa mendeteksi penyebaran virus COVID-19 ini,” kata Rektor.

Menurut Rektor yang sangat berbahaya hari ini adalah orang-orang yang sebenarnya positif Corona namun mereka tidak menyadarinya. Penyebabnya, karena mereka tidak memiliki gejala (OTG).

“Mereka yang tidak bergejala ini kemudian pulang ke rumahnya dan bertemu dengan orang tua yang memiliki riwayat komorbid, yaitu orang-orang yang memiliki penyakit bawaan. Kalau kita lihat persentase yang meninggal, yang paling tinggi adalah darah tinggi, kencing manis, jantung dan paru. Maka kita perlu mewaspadai virus COVID-19,” demikian Rektor.(Antara)

(Warto'i)