Pengamat AEPI, Asosiasi Pengamat Ekonomi Indonesia Salamudin Daeng, Wakil Ketua LKKNU, Luluk Nurhamida, Direktur Alvara, Hasanuddin Ali, Dosen FE UI, Berly Martawardaya menjadi narasumber pada acara diskusi di Gedung PBNU, Jakarta, Selasa (23/2/2016). Diskusi tersebut membahas tema "Tak Pa Pa Tolak TPP".

Jakarta, Aktual.com – Pertamina ternyata bukan cuma perusahaan migas terbesar yang membawahi seluruh perusahaan migas milik negara, namun Pertamina adalah “bank” pemberi pinjaman terbesar di negeri ini.

Berbeda dengan bank pinjaman yang diberikan pertamina bukan uang tapi BBM. Apakah pertamina membuat studi kelayakan sepeti bank bank dalam mendistribusikan utang?

Tidak hanya pemerintah yang memiliki hutang super jumbo kepada Pertamina, namun juga perusahaan perusahaan swasta. Keseluruhan utang terhadap pertamina setara dengan keuntungan setahun yang diklaim oleh BUMN terbesar di tanah air ini.

Utang berbagai pihak kepada pertamina ini adalah utang Bahan Bakar Minyak (BBM). Pemerintah menugaskan Pertamina dalam mendistribusikan BBM dibawah harga keekonomian dengan janji akan diganti dengan subsidi.

Penggantian subsidi ini inilah yang tidak dibayar. Sementara Perusahaan perusahaan membeli BBM dari pertamina dengan cara utang. Seringkali perusahaan. Bangkrut atau dengan modus lainnya tidak bisa membayar utang BBM.

Adapun utang pemerintah pada pertamina tercatat dalam laporan keuangan Pertamina tahun 2018 yang terdiri daei bagaiam piutang Pertamina pada pemerintah bagian lancar senilai USD 1.834.261 ribu.

(Abdul Hamid)