Jakarta, Aktual.com – Seiring minimnya sentimen positif dari global, kondisi ekonomi makro di dalam negeri juga tak berdampak positif terhadap laju rupiah.

Sehingga pada perdagangan hari ini, laju nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) masih tetap di zona merah untuk melanjutkan pelemahannya. Kondisi ini membuat masih banyak terjadi aksi profit taking (ambil untung).

“Rupiah terus bergerak cenderung melemah. Adanya sentimen negatif dari domestik seperti pemangkasan laju PDB di RAPBN 2017 kembali membuat para pelaku pasar cenderung melakukan aksi jualnya,” jelas analis dari PT NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada, dalam alisis hariannya, Kamis (15/9).

Kini, kata Reza, laju rupiah sedang menguji level psikologis baru di area 13.200. “Apabila gagal bertahan, maka rupiah berpeluang mencari area support barunya di kisaran 13.274 serta level resisten di rentang 13.200,” papar dia.

Padahal laju USD sendiri sejauh ini masih cenderung bergerak flat, mestinya bisa dimanfaatkan oleh rupiah. Kondisi USD ini terjadi karena para pelaku pasar terlihat masih menunggu pertemuan bank sentral AS, The Fed, di pekan mendatang.

Bahkan yen mengalami pelemahan yang sangat drastis. Hal ini terjadi setelah Bank of Japan belum juga memiliki rencana untuk melakukan pelonggaran moneternya.

“Sehingga keadaan tersebut turut menekan obligasi Jepang dalam jangka waktu 25 tahun ini. Kondisi itu turut mengantarkan pelemahan yen di level 103-an,” turur dia.

Sebelumnya, pelemahan laju rupiah karena dipengaruhi melemahnya laju harga minyak mentah dunia. Rupiah berpeluang melanjutkan pelemahan mengingat rilis cadangan minyak tersebut nantinya dapat dijadikan momentum para pelaku pasar untuk melakukan aksi profit taking.

“Dan itu menjadi kenyataan. Makanya tetap waspadai sentimen yang ada,” ujar Reza.

 

*Bustomi

Artikel ini ditulis oleh: