Jakarta, aktual.com – Paguyuban Rakyat Indonesia Raya (Paraindra), menilai wacana referendum Aceh tidak membahayakan untuk keutuhan Bangsa Indonesia.

“Saya kira tidak bahaya, karena kita lihat, apakah ini memang dari kemauan rakyat Aceh sendiri atau hanya kemauan dari politisi-politisi Aceh,” ujar Ketua Umum Paraindra Raja Brotodiningrat di Jakarta, Sabtu (1/6).

Lebih lanjut Brotodiningrat menegaskan bahwa referendum Aceh harus dinilai secara objektif.

“Kalaupun rakyat Aceh mengeluarkan untuk referendum, kenapa harua saat ini? Kenapa 2014, kenapa ngga 2015, kenapa di ujung (dari Pemilu 2019),” tegasnya.

Brotodiningrat menilai orang Indoneaia itu menilai, pilpres itu kompetisi, pilpres itu bagian dari pemilihan untuk menentukan pemimpinnya.

“Pilpres bukan ajang kompetisi, merupakan bagian demokrasi untuk menentukan pemimpin,” nilainya.

Seperti diketahui, Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) dan Ketua DPA Partai Aceh (PA) Muzakir Manaf atau akrab disapa Mualem, mengusulkan agar Aceh lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) atau refendum. Usulan Mualem itu keluar karena, ia menilai keadilan dan demokrasi di Tanah Air sudah tidak jelas lagi.

“Alhamudlillah, kita melihat saat ini, negara kita di Indonesia tak jelas soal keadilan dan demokrasi. Indonesia diambang kehancuran dari sisi apa saja, itu sebabnya, maaf Pak Pangdam, ke depan Aceh kita minta referendum saja,” tegas Mualem yang disambut tepuk tangan dan yel,,yel hidup Mualem, dikutip dari modusaceh.co di Jakarta, Selasa (28/5).

Selengkapnya baca: Mualem Usulkan Aceh Referendum Ikuti Langkah Timor Timur

(Zaenal Arifin)