NEW YORK - AUGUST 15: Traders works on the floor of the New York Stock Exchange (NYSE) August 15, 2008 in New York City. Stocks were up in morning trading on Wall Street as the strengthening U.S. dollar drove global commodity prices down. (Photo by Spencer Platt/Getty Images)

Jakarta, Aktual.com – Wall Street turun tajam pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), karena serangkaian data ekonomi AS gagal mengubah arah pengetatan agresif yang diperkirakan oleh Federal Reserve di tengah meningkatnya peringatan akan resesi global.

Indeks Dow Jones Industrial Average jatuh 173,27 poin atau 0,56 persen, menjadi menetap di 30.961,82 poin. Indeks S&P 500 terpangkas 44,66 poin atau 1,13 persen, menjadi berakhir di 3.901,35 poin. Indeks Komposit Nasdaq turun 167,32 poin atau 1,43 persen, menjadi ditutup di 11.552,36 poin.

Sembilan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di wilayah negatif, dengan sektor energi dan utilitas masing-masing merosot 2,54 persen dan 2,53 persen, memimpin penurunan. Sementara itu, sektor perawatan kesehatan dan keuangan menambah sedikit keuntungan.

Aksi jual mengumpulkan momentum menjelang akhir sesi, dengan para pemimpin pasar termasuk Microsoft Corp, Apple Inc dan Amazon.com Inc memukul paling keras Nasdaq yang sarat teknologi.

“Ini merupakan tahun yang sulit dan investor waspada,” kata Matthew Keator, Managing Partner di Keator Group, sebuah perusahaan manajemen kekayaan di Lenox, Massachusetts.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan pada Kamis (15/9/2022) bahwa klaim pengangguran awal negara itu, cara kasar untuk mengukur PHK, turun 5.000 menjadi 213.000 untuk pekan yang berakhir 10 September, menandai level terendah sejak akhir Mei. Ini juga merupakan minggu kelima berturut-turut klaim pengangguran turun.

Penjualan ritel AS naik tak terduga 0,3 persen pada Agustus setelah jatuh 0,4 persen pada Juli, menurut Departemen Perdagangan.

Tak satu pun dari data tampaknya mengubah kalkulus mengenai ekspektasi Fed. Pasar keuangan sekarang telah sepenuhnya memperkirakan kenaikan suku bunga setidaknya 75 basis poin pada Rabu (21/9/2022) depan, dengan peluang satu-dalam-lima dari kenaikan berukuran super 100 basis poin, menurut alat FedWatch CME.

Ekuitas AS telah berada di bawah tekanan baru-baru ini karena kekhawatiran atas inflasi dan suku bunga yang lebih tinggi mencengkeram pasar.

Laporan indeks harga konsumen AS Agustus yang lebih panas dari perkiraan pada Selasa (13/9/2022) menunjukkan bahwa inflasi mungkin menjadi mengakar dan mendorong kemungkinan kenaikan suku bunga yang lebih agresif dari The Fed.[ant]

(Andy Abdul Hamid)