Jakarta, Aktual.co — Warga di Kabupaten Rejanglebong, Provinsi Bengkulu masih meminati atau menyaksikan pentas kesenian kuda kepang.

 “Kesenian kuda kepang di sini sudah menjadi bagian dari masyarakat Kabupaten Rejanglebong, sehingga tidak hanya ditanggap oleh warga asal Jawa saja, namun masyarakat asli Rejang juga banyak yang menanggapnya untuk pengisi acara di hajatan maupun acara lainnya,” kata Wagimin (60) salah seorang tokoh masyarakat Jawa dan pengurus kesenian kuda kepang Sri Rahayu Utomo, Desa Kampung Delima, Kecamatan Curup Timur, di Rejanglebong, Kamis (26/2).

Derasnya arus kebudayaan dan seni dari bangsa barat dan serta kesenian modern yang masuk ke daerah itu sejak beberapa tahun belakangan kata dia, tidak membuat kesenian kuda kepang kehilangan penggemarnya, hal ini terbukti hampir setiap minggu grup kesenian kuda kepang di daerah mereka ditampilkan warga sebagai pengisi acara di hajatan maupun acara penyambutan tamu dari luar daerah.

Kesenian kuda kepang sendiri bagi kalangan masyarakat Kabupaten Rejanglebong sudah menjadi bagian dari seni daerah selain kesenian daerah asli. Sebagai bentuk pelestarian dan penampilan keragaman seni budaya daerah itu, kesenian kuda kepang mereka selalu disertakan dalam acara peringatan HUT Kota Curup yang setiap bulan Mei diperingatan dengan berbagai pementasan seni budaya daerah.

 Grup kesenian kuda kepang Sri Rahayu Utomo Desa Kampung Delima yang didirikan sejak 2010 lalu tambah dia, hingga saat ini sudah memiliki anggota sebanyak 70 orang. Para anggota grup kesenian itu terdiri dari kalangan anak muda baik laki-laki maupun perempuan dan sebagian kecil dari kalangan tua yang umumnya bertindak selaku pengurus organisasi.

Perkembangan grup kesenian dari Jawa di daerah itu saat ini semakin baik, dengan masih tingginya animo masyarakat untuk mementaskannya sehingga tidak kalah dengan kesenian modern yang saat ini banyak digandrungi warga seperti “organ tunggal” maupun pementasan grup band.

 Selain pementasannya berbiaya murah meriah, juga tidak membutuhkan seni panggung yang mahal, karena kesenian ini bisa dipentaskan di lapangan terbuka baik siang maupun malam hari.

 Sementara itu menurut Kasimun (50) warga asal Desa Air Merah Kecamatan Curup Tengah, pementasan kesenian kuda kepang di daerah mereka saat ini lebih banyak dipentaskan warga sebagai pengisi acara hiburan pada kegiatan hajatan.

 “Warga sini lebih sering menanggap kuda kepang, karena biayanya murah dan terkadang hanya membayar uang transpor serta menyediakan makan dan minum pemain kuda kepang. Kalau kita mau pakai hiburan organ tunggal biayanya bisa mencapai jutaan,” ujarnya.

 Mementaskan kesenian kuda kepang kata dia, selain menjadi kebanggaan mereka sebagai warga pendatang juga untuk mempopulerkannya kembali sehingga kalangan anak muda tidak beralih atau melupakan kesenian dan kebudayaan asli Indonesia.

 

(Ant)

()