Jakarta, Aktual.com – Negara Indonesia yang amat luas wilayahnya serta begitu banyak dan majemuk penduduknya memerlukan kerangka “titik temu” (persetujuan) demi kebaikan dan kebahagiaan hidup bersama.

Titik temu itu bisa diusahakan dengan kemampuan menemukan sedimentasi nilai-nilai esensial dan pandangan dunia yang mengendap solid dalam lintasan panjang sejarah peradaban Nusantara, sebagai pusat penyerbukan silang antar-budaya.

Nilai-nilai ideal yang bersifat relatif ajeg itu kemudian dijadikan titik tumpu (dasar) filosofi negara, yang melandasi hukum dasar, perundang-undangan, ideologi dan kebijakan negara.

Selanjutnya, nilai-nilai dasar filosofi itu juga sekaligus menjadi bintang penuntun untuk merumuskan “titik tuju”, yang mengandung visi tentang masa depan yang diidamkan beserta kerangka ideologis-paradigmatis untuk mewujudkannya.

Jurang lebar antara idealitas dan realitas Pancasila hanya bisa dijembatani manakala kita bisa sungguh-sungguh mengupayakan pemenuhan modal sosial-keadaban (mentalitas, sosialitas, moralitas, spiritualitas bangsa); modal ideologis-paradigmatis (tata nilai, tata kelola, tata sejahtera, dgn kedalaman penetrasi ideologis pd dimensi keyakinan, pengetahuan dan tindakan); disertai pendekatan dan metodologi pembudayaan yang tepat dan atraktif.

Kurang lebih itulah intisari dari buku Wawasan Pancasila. Istilah “wawasan” di sini bisa dipahami sebagai “cara pandang kita dalam memahami hakikat Pancasila ditinjau dari berbagai perspektif)”; bisa pula sebagai “cara pandang Pancasila dalam memahami hakikat kehidupan kenegaraan dan kebangsaan”.

Sejak diluncurkan pada akhir Juli 2020, buku ini telah mendapat sambutan hangat dari publik pembaca, hingga selang satu bulan telah dicetak ulang. Berikut saya tampilkan tiga orang representasi pembaca antusias: Dr. Susetya Herawati, ST. M.Si (dosen pascasarjana dan penggiat Yayasan Suluh Nuswantara Bakti), Kusdinar (mantan pelayar, pengusaha perintis), Zulkipli F. Ramadhan (editor perbukuan dan penggiat media).

Yudi Latif

(Warto'i)