Jakarta, aktual.com – Sebagai salah satu kota terbesar di Provinsi Jawa Timur, Kota Malang merupakan kota yang penuh dengan aktivitas bisnis dan rekreasi. Hal ini membuatnya ramai dan bising. Belum lagi, polusi udara yang ditimbulkan dari knalpot kendaraan roda dua dan empat yang berseliweran di jalan raya.

Jika penat dengan semua itu, coba saja agrowisata Wonosari yang menyegarkan. Berikut ini sekilas informasinya.

Sejarah di Balik Kesuksesan Agrowisata Wonosari
Sejarah di balik berdirinya kawasan agrowisata Wonosari cukup menarik untuk diceritakan. Kebun teh Wonosari sebenarnya sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda, tepatnya tahun 1875, atas inisiatif sebuah perusahaan dagang dari Belanda, bernama NV. Cultur Maathappy. Pada saat itu kebun teh Wonosari merupakan perintis kebun teh di Jawa Timur.

Sejak ditinggalkan Belanda pada 1942, Jepang kemudian mengambil alih dan menambah sejumlah tanaman, seperti tanaman kina, kentang, singkong, dan ubi. Setelah merdeka pada 1945, perkebunan ini mulai diambil alih kembali oleh perusahaan negara, PT. Perkebunan Nusantara XII. Hingga kini perusahaan ini mengelola perkebunan dan pabrik teh Wonosari, serta menghasilkan produk teh kemasan bernama Teh Rolas.

Keistimewaan Agrowisata Wonosari
Berdiri di ketinggian 950 mdpl kaki Gunung Arjuno dan memiliki luas 1.114 hektare, kawasan agrowisata Wonosari menawarkan wisata alam yang sejuk dan memesona. Petugas yang memetik teh kebanyakan adalah warga sekitar yang tinggal di Dusun Wonosari. Anda sekeluarga dapat menjelajahi kebun teh sambil menghirup udara segar yang sejuk dan menyapa para pemetik teh yang sedang bertugas.

Tak kalah menarik, Anda juga dapat berfoto bersama keluarga pada beberapa spot foto yang Instagrammable, seperti sebuah jembatan kayu unik yang dibangun membentang di atas tanaman perdu kebun teh Wonosari. Lebih unik lagi, terdapat sebuah papan yang mirip dengan papan selancar yang ditancapkan pada salah satu lereng di kebun teh ini. Anda dapat menikmati panorama indah kawasan agrowisata Wonosari dari papan tersebut.

Jangan lupa untuk menyempatkan diri mampir di Pabrik Teh Wonosari untuk melihat secara langsung proses pengolahan pucuk-pucuk daun teh menjadi teh dalam kemasan yang siap seduh.

Wahana dan Fasilitas Menarik Lainnya

Selain menikmati pemandangan, berfoto, dan singgah di pabrik teh, Anda sekeluarga juga dapat bermain wahana menarik di kawasan agrowisata Wonosari. Wahana tersebut di antaranya kereta kelinci, motor roda empat ATV, sepeda gunung, sepeda air, mobil bertenaga baterai, wall climbing, flying fox, paint ball, dan berkuda.

Fasilitas umum yang tersedia juga cukup membuat Anda sekeluarga betah berekreasi di sana. Anda dapat mandi di pemandian air panas, menikmati hidangan lokal di rumah makan, dan berbelanja oleh-oleh di pusat cendera mata. Ingin bermalam? Jangan khawatir, di sana juga terdapat penginapan yang dikelola oleh warga setempat.

Lokasi, Jam Operasi, dan Harga Tiket Masuk
Kawasan agrowisata Wonosari berlokasi di perbatasan antara Malang dan Surabaya, hanya sekitar 6km dari daerah Lawang dan 30km dari jantung Kota Malang. Lebih tepatnya lagi, di kaki Gunung Arjuno, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur.

Anda dapat mengunjungi tempat wisata ini dari mulai pukul 07.00 pagi hingga 17.00 sore. Untuk memasuki kawasan ini, Anda juga dapat menggunakan kendaraan pribadi atau pun umum. Tarif tiket masuknya adalah Rp8.000 per orang untuk hari Senin hingga Sabtu dan Rp12.000 per orang untuk hari Minggu dan libur nasional.

Ingin piknik bersama keluarga di kawasan agrowisata Wonosari, Malang? Segera pesan tiket murah, seperti tiket Garuda Indonesia, Citilink, dan Batik Air, melalui aplikasi Airy.

Untuk urusan penginapan, Anda juga tidak perlu khawatir, Airy juga menyediakan beragam hotel terbaik di Malang dengan harga yang tentunya juga kompetitif.

Tenang saja, semua transaksi dengan Airy dijamin mudah, aman, dan memuaskan. Jangan khawatir jika Anda mengalami kendala terkait rencana perjalanan Anda, sebab Airy menyediakan layanan refund dan reschedule sebagai bentuk pelayanan terbaiknya.

(Zaenal Arifin)