Kupang, Aktual.co — Kupang, Aktual.co – Jumlah sapi yang mati kehausan akibat kekeringan kemarau panjang di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT) sampai Jumat (7/11) dilaporkan terus bertambah.

Jika selama periode September-Oktober sapi mati mencapai 200 ekor, mulai awal November jumlah sapi mati dilaporkan bertambah 15 ekor. Jumlah itu terdiri dari 11 ekor di Desa Oel’ekam, Kecamatan Mollo Tengah, dan empat ekor di Desa O’of, Kecamatan Kuatnana.

‎Anggota DPRD Nusa Tenggara Timur (NTT) Jefri Un Banunaek yang baru saja kembali dari dua desa tersebut mengatakan, penyebab sapi mati karena kehausan akibat tempat penampungan air seperti embung sudah mengering. Saat ini satu-satunya sumber air ialah sumur milik warga.

‎Hanya saja air di sumur harus dikeluarkan sebelum diberikan ke sapi. “Sapi-sapi di sana dilepas mencari pakan dan air. Karena tidak adaair, sapi akhirnya mati kehausan,” kata Jefridi Kupang, Jumat (7/11).

‎Dia mengatakan beberapa sapi mati karena terjatuh ke tebing ketika mencari air di sungai. Masyarakat pun tidak bisa berbuat banyak karena kekeringan ini. Padahal, hal ini terjadi di seluruh wilayah dan berdampak luas.

‎Sementara itu sapi mati sebelumnya berjumlah 200 ekor terjadi di Desa Salbait, Kecamatan Mollo Barat. Sapi-sapi tersebut milik enam kelompok penerima bantuan pembibitan sapi potong dari Dinas Peternakan NTT.

‎Melki Batu, Ketua Kelompok Moenmese di Desa Salbait yang dihubungi pada kesempatan terpisah mengatakan, setiap kelompok kebagian 110 sapi terdiri dari 100 betina dan 10 jantan. Mulai Agustus 2014, petani kesulitan air dan pakan.

‎Selain itu, kata dia, sapi-sapi mudah terserang penyakit karena ketika disalurkan, banyak sapi dalam kondisi tidak sehat. Kenyataan itu mengakibatkan kondisi sapi terus memburuk apalagi tidak ada pasokan pakan dan minum memadai.

‎”Kami cari pakan dan air antara 5-10 kilometer dan saat seperti ini (kemarau panjang) sapi sulit mendapat air,” ujarnya.

‎Adapun sapi yang mati menurut dia, dipotong kemudian daging sapi dibagi bersama anggota kelompok.

‎Meskipun persoalan sapi mati kehausan sudah terjadi sejak September, sampai saat ini belum ada penanganan dari Dinas Peternakan NTT maupun Dinas Peternakan Timor Tengah Selatan.