Jakarta, Aktual.com — Anggota komisi VIII DPR, Khatibul Umam Wiranu menilai gerakan pemuda dan mahasiswa sekarang lebih cenderung menyikapi permasalahan yang bersifat sektoral. Mereka lebih suka menanggapi isu-isu lokal dan parsial, dibandingkan permasalahan besar yang tengah dihadapi bangsa Indonesia.

Mantan aktivis Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMMII) dan Gerakan Pemuda Anshor menyatakan demikian sejalan dengan peringatan peristiwa Malapetakan Lima Belas Januari (Malari) Tahun 1974.

“Belum terlihat gerakannya merespon isu dan kebijakan nasional yang dampak buruknya berakibat pada hal-hal yang bersifat lokal sektoral,” terang Kang Umam, sapannya, kepada Aktual.com, Senin (18/1).

Gerakan pemuda dan mahasiswa belakangan tanpa visi dan menggantungkan diri pada kekuatan blok politik tertentu. Hal ini berbeda dengan era tahun 1974, era 1978 hingga era 1980-an. Pada era tersebut pemuda dan mahasiswa terbebas dari kepentingan politik pemilik kekuatan politik dan kekuatan modal.

Diungkapkan Kang Umam, gerakan mahasiswa tahun 74 hingga tahun 78 mengusung tema besar menolak modal asing. Dalam peristiwa Malari misalnya, pemuda dan mahasiswa bersatu menolak masuknya modal asing dari Jepang ke Indonesia.

Saat itu yang ditentang adalah rezim Soeharto yang pada awal pemerintahannya, tahun 1966, mengeluarkan Undang-Undang Investasi. Dimana dampaknya secara langsung adalah menangkal Undang-Undang Pokok Agraria Tahun 1950.

“Undang-Undang Investasi ini membuat sektor investasi asing masuk secara besar-besaran dan dimulailah era penjajahan baru (neo kolonialisme),” demikian Kang Umam.

()

()