Barangkali, bukan tanpa alasan, Joko Widodo sering dianggap sebagai Presiden lemah oleh lawan-lawan politiknya. Pertama, karena kepemimpinan Joko Widodo memang tampak lamban dalam mengambil keputusan strategis. Kedua karena Presiden dianggap tidak tegas dan tidak mampu menyelesaikan permasalahan bangsa.

Misalnya semasa pandemi Covid19 (Corona), kepemimpinan presiden Joko Widodo dianggap tidak tanggap mengantisipasi mewabahnya virus ini di tanah air. Padahal sejak jauh hari, banyak pihak sudah mengingatkan bahaya besar virus ini. Buktinya, hingga akhir Februari Maret 2020, Presiden Joko Widodo bahkan tidak mengambil kebijakan yang tegas untuk melindungi rakyat Indonesia dari wabah Corona.

Kelambanan Presiden Jokowi juga tampak dalam penanganan penyebaran Covid-19. Terutama dalam keputusan maju-mundur pemberlakuan PSBB dan pelarangan mudik. Sikap dan gaya Presiden Joko Widodo sedikit banyak mempengaruhi massifnya penyebaran virus Covid-19 di Indonesia.

Secara teori, kepemimpinan model ini dianggap kepemimpinan kepresidenan yang lemah (Weak President) alias tidak efektif *(Hanta Yuda: 2010)*. Gaya Presiden Joko Widodo yang lamban dalam mengambil keputusan tersebut disebabkan banyaknya intervensi dari partai dan kelompok kekuasaan.

Sudah bukan rahasia umum lagi bila di periode kedua ini, Presiden Joko Widodo juga belum bisa melepaskan diri dari jerat kekuatan politik yang mengintervensinya. Masih terlalu banyak kekuatan yang membuat Presiden Joko Widodo tampak vulgar terkungkung kepentingan politik.

Tentu saja, kepemimpinan Presiden model ini sudah sangat tidak relevan dengan perkembangan zaman yang mengedepankan pengambilan keputusan secara cepat dan visioner *(Kepemimpinan 4.0)* Terlebih hampir selama 75 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, masih banyak mimpi dan pekerjaan rumah konstitusional yang belum dipenuhi: mensejahterakan rakyat Indonesia dan perlindungan atas mereka.

Agar ada percepatan pencapaian mimpi republik, Presiden Joko Widodo tentu harus mampu mengubah gaya kepemimpinannya yang dianggap lemah. Terlebih di masa-masa yang tidak menentu dan penuh ketidakpastian ini.

Saat ini yang dibutuhkan rakyat Indonesia hanyalah gaya kepemimpinan yang mampu membangun optimisme, memelihara harapan dan mampu menyelesaikan permasalahan. Dan, selama dipimpin sekitar 6 tahun terakhir, tampaknya harapan tersebut tidak bisa digantungkan kepada Presiden Joko Widodo.

Demi republik, Anda harus berubah, Mr. President !

(REDAKSI AKTUAL)

(A. Hilmi)