Jakarta, Aktual.com – Laporan keuangan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) pada tahun 2017 tidak memberikan hasil yang memuaskan. Laba bersih Perusahaan listrik milik negara ini anjlok 45,7 persen (Rp3,73 triliun) dari tahun 2016 sebesar Rp8,15 triliun menjadi Rp4,42 triliun pada 2017.
“Penurunan laba ini disebabkan oleh kenaikan biaya energi seperti batu bara, minyak mentah, termasuk pengaruh dari kurs,” ujar Direktur Keuangan Perusahaan Listrik Negara (PLN) Sarwono Sudarto di Jakarta, ditulis Minggu (1/4).
Pasalnya, Harga batubara mengalami kenaikan signifikan sejak akhir tahun 2016. Sedangkan 58 persen pembangkit PLN masih menggunakan Batubara sebagai energi primer. Pada tahun 2017, biaya pokok produksi PLN naik hingga Rp16,46 triliun akibat kenaikan harga batubara sesuai dengan harga pasar.
Selain itu, Laba PLN 2017 tergerus paling besar disebabkan oleh rugi selisih kurs yang mencapai Rp2,93 triliun. Padahal, pada 2016, PLN masih mendapatkan untung dari selisih kurs ini hingga Rp4,19 triliun.
Selain itu, total pendapatan usaha PLN tumbuh 14,57 persen menjadi Rp 255,29 triliun. Sedangkan beban usaha naik 8,26 persen menjadi Rp 275,47 triliun. Adapun subsidi listrik dari pemerintah tahun lalu sebesar Rp45,74 triliun, lebih rendah dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp58 triliun.
Secara kumulatif, penambahan utang PLN mencapai Rp83,6 triliun sedangkan penambahan investasi mencapai Rp190,7 triliun. Selama 2015-2017, PLN memberikan kontribusi fiskal kepada negara Rp239,5 triliun yang terdiri dari pajak dan deviden Rp96 triliun dan penghematan subsidi Rp143,5 triliun. Meningkatnya utang tersebut dipergunakan PLN untuk menambah jaringan dan pengembangan kelistrikan.
“PLN bisa berjalan tanpa utang, tapi tidak berkembang. Dengan utang, maka PLN akan berkembang dan terus meningkatkan pembangunan kelistrikan,” ujar Sarwono.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka

















