Jakarta, Aktual.co — Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito mengatakan kemudahan masyarakat berinvestasi saham mendorong partisipasi investor domestik terhadap industri pasar modal menunjukkan gejala atau tren kenaikan.

“Partisipasi investor domestik menunjukkan tren naik. Beberapa tahun lalu, investor domestik dari segi transaksi perdagangan sehari- hari kurang dari 55 persen, sekarang sebesar 59 persen. Artinya, partisipasi asing trennya menurun meski secara kepemilikan saham masih mendominasi,” ujar Ito Warsito di Jakarta, Jumat (29/5).

Sementara itu, dalam data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) tercatat total nilai saham di pasar modal Indonesia sebesar Rp2.858,42 triliun per April 2015. Dari total itu, kepemilikan saham asing sebesar Rp1.852,83 triliun, dan sisanya sebesar Rp1.005,58 dimiliki investor lokal.

“Kepercayaan investor asing terhadap pasar modal Indonesia masih tinggi. Buktinya investor asing mendominasi kepemilikan saham, artinya mereka juga menjadi bagian penting,” kata Ito Warsito.

Ia juga mengatakan bahwa dalam enam tahun terakhir ini regulator cukup fokus melakukan edukasi pasar modal kepada masyarakat, sehingga jumlah rekening yang tercatat di KSEI meningkat sekitar tiga kali lipat menjadi 483.776 rekening efek per April 2015 dibandingkan akhir 2009 lalu yang sekitar 160.000 rekening efek.

Ito Warsito yakin jumlah rekening efek itu akan terus mengalami penambahan seiring dengan perkiraan perekonomian Indonesia yang masih cukup positif ke depannya menyusul kebijakan pemerintah dalam mendorong pembangunan infrastruktur.

“Ekonomi lesu itu sejarah saja, pelambatan ekonomi pada kuartal I 2015 itu sebagai dampak dari 2014. Penerbitan saham baru atau obligasi diperkirakan melampaui tahun lalu, itu menunjukkan ekspektasi pertumbuhan ekonomi tahun ini akan lebih tinggi dari 2014,” ucapnya.

Sementara itu, Direktur Valbury Capital Management Andreas Yasakasih mengatakan bahwa pelambatan ekonomi saat ini bukan hal yang perlu ditakuti, dalam jangka pendek memang cenderung tertahan, namun untuk jangka panjang Indonesia memiliki perekonomian yang prospektif.

“Pada kuartal pertama dan kedua, pemerintah sedang melakukan persiapan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi salah satunya dengan pembangunan infrastruktur, pada kuartal ketiga dan keempat akan dilakukan eksekusi, sehingga laju pertumbuhan ekonomi akan terbuka,” kata Andreas Yasakasih.

Menurut dia, membaiknya perekonomian Indonesia akan diikuti oleh kinerja perusahaan tercatat atau emiten di BEI, situasi itu akan menarik minat investor untuk melakukan akumulasi saham-saham di dalam negeri yang pada akhirnya akan mendorong laju indeks harga saham gabungan (IHSG) di BEI.

Artikel ini ditulis oleh: