Jakarta, Aktual.com – Amerika Serikat menyatakan kesepakatan perdagangan dengan Indonesia yang diteken pada 19 Februari lalu di Washington DC merupakan perjanjian bersejarah yang memberi keuntungan untuk industri dalam negerinya.
Dilansir dari CNBC Indonesia, Kantor Perwakilan Dagang AS (United States Trade Representative/USTR) menuturkan perjanjian tersebut telah mengunci kesepakatan investasi sekitar US$33 miliar dari Indonesia. Hal ini mencakup pembelian komoditas energi senilai US$15 miliar, kedirgantaraan US$13,5 miliar, dan produk pertanian senilai US$4,5 miliar.
“Kesepakatan perdagangan Presiden Trump dengan Indonesia membuka akses bagi eksportir Amerika ke negara terpadat keempat di dunia, menciptakan peluang komersial yang berarti bagi petani dan produsen Amerika,” tulis USTR di X, Selasa (24/2/2026).
Adapun beberapa jam setelah kesepakatan tersebut diteken, Mahkamah Agung (MA) AS membatalkan tarif resiprokal Trump yang kemudian direspons dengan pengenaan tarif global baru sebesar 15%.
Dalam keterangan resminya, USTR menampilkan sejumlah pemberitaan media terkait kesepakatan dagang dengan Indonesia. Lembaga itu juga mengutip pernyataan sejumlah pengusaha AS yang memuji langkah yang sudah dilakukan Trump.
“Terima kasih kepada Duta Besar Greer dan tim USTR atas upaya mereka dalam mengamankan akses yang lebih luas yang secara langsung akan meningkatkan permintaan terhadap produk susu AS,” tutur Presiden dan CEO Federasi Produsen Susu Nasional AS Gregg Doud.
Presiden Trump mengumumkan Perjanjian Perdagangan Timbal Balik dengan Indonesia, menghapus hambatan tarif pada lebih dari 99% produk AS untuk memperluas akses warga Amerika ke pasar Indonesia yang berpenduduk lebih dari 280 juta orang.
Hal senada juga diungkapkan Presiden dan CEO US Meat Export Federation (USMEF) atau Federasi Ekspor Daging AS, Dan Halstrom.
Menurutnya, perjanjian baru ini mengatasi banyak hambatan yang dipertahankan oleh Indonesia, dan implementasi yang sukses akan memungkinkan importir dan konsumen Indonesia untuk memiliki akses yang berarti dan konsisten terhadap daging sapi AS untuk pertama kalinya.
“Nilai ekspor dapat mencapai US$400 juta hingga US$500 juta dalam waktu dekat setelah implementasi. Ekspor daging babi AS juga telah dibatasi oleh rezim perizinan impor Indonesia dan oleh persetujuan terbatas terhadap pabrik-pabrik AS. Hambatan-hambatan ini hilang di bawah perjanjian ini, memungkinkan pertumbuhan lebih lanjut dalam ekspor daging babi AS, termasuk produk olahan lebih lanjut,” tuturnya.
Dalam Salinan dokumen perjanjian kedua negara sebanyak 45 halaman, salah satu kerja samanya adalah mengenai masuknya produk makanan yang berasal dari babi sebesar 3.000 metrik ton per tahun.
“Pork products the aggregate quantity of goods entered under tariff lines listed in subparagraph shall be free of duty in any quota year specified herein adn shall not exceed the quantity specified below for each such year. Starting in quota year the quantity shall remain at 3.000 metrik ton per year.”
(Produk daging babi, jumlah total barang yang diimpor berdasarkan pos tarif yang tercantum dalam subparagraf, akan bebas bea masuk pada setiap tahun kuota yang ditentukan di sini dan tidak boleh melebihi jumlah yang ditentukan di bawah ini untuk setiap tahun tersebut. Mulai tahun kuota, jumlahnya akan tetap pada 3.000 metrik ton,” tulis dokumen perjanjian tersebut.
Sedangkan CEO Growth Energy Emily Skor menilai kerangka perdagangan baru dengan Indonesia mewakili harapan baru bagi pertanian AS. Menurutnya, penerapan campuran etanol 10% secara nasional dapat membuka pasar sebesar 900 juta galon bagi produsen dan petani AS.
“Kami memuji Presiden Trump, Duta Besar Greer, dan Menteri Rollins atas komitmen berkelanjutan mereka untuk melepaskan potensi energi Amerika dan menghapus hambatan yang tidak adil terhadap ekspor dari pedesaan Amerika,” katanya.
Sementara itu, Wakil Presiden Senior Kebijakan Global Business Software Alliance (BSA) Aaron Cooper mengatakan perjanjian perdagangan AS-Indonesia merupakan terobosan dalam kebijakan perdagangan digital.
“Perjanjian ini mengirimkan sinyal kuat kepada ekonomi global dan banyak industri yang bergantung pada perdagangan digital yang terbuka dan aman, serta mencerminkan reformasi kunci yang telah menjadi prioritas utama BSA selama hampir satu dekade,” tuturnya.
Artikel ini ditulis oleh:
Eroby Jawi Fahmi

















