Jakarta, aktual.com – Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menjelaskan alasan pengunduran diri dua pimpinan struktural di Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Mereka adalah Dwi Purwantoro yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Jenderal (Dirjen) Sumber Daya Air (SDA), dan yang kedua adalah Dewi Chomistriana dari posisi Dirjen Cipta Karya.

Dody mengungkapkan pengunduran diri mereka terkait adanya temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang menyebutkan kerugian keuangan negara di lingkungan kementeriannya. Ia menyebut surat dari BPK telah diterimanya dua kali sepanjang 2025.

“Jadi sebenarnya, tadi yang disampaikan itu betul. Memang itu kan temuan BPK. BPK itu berkirim surat ke saya dua kali,” ujar Dody, di Semarang, Minggu (1/3/2026).

Ia menjelaskan surat pertama diterima pada Januari 2025. Dalam surat tersebut, nilai kerugian negara disebut hampir mencapai Rp3 triliun. “Januari 2025 itu, kalau nggak salah disitu disantumkan kerugian keuangan negara itu hampir Rp3 triliun,” katanya.

Atas temuan itu, ia mengaku langsung memberikan disposisi kepada Sekretaris Jenderal dan Inspektur Jenderal untuk segera menindaklanjuti. Ia bahkan menetapkan batas waktu hingga Juni 2025.

“Dan saya kasih waktu sampai dengan bulan Juni 2025. Tapi sampai detik ini juga nggak ada respon,” ucapnya.

Surat kedua datang pada Agustus 2025. Dalam surat lanjutan tersebut, nilai kerugian negara disebut menurun. “Nah, disitu disampaikan kerugian keuangan negara itu sudah turun menjadi hampir sekitar 1 triliunan lah. Ya, dari awalnya hampir 3 triliun menjadi sekitar hampir 1 triliun,” kata Dody.

Ia menilai tindak lanjut internal belum berjalan optimal, termasuk rencana pembentukan Majelis Ad-Hoc dan tim percepatan pengembalian kerugian negara di satuan kerja. Karena itu, ia memutuskan mengambil alih langsung penanganannya. “Makanya kemudian saya ambil alih,” ujarnya.

Dody memastikan akan membentuk Majelis Ad-Hoc serta tim baru di setiap satuan kerja agar pengembalian kerugian negara lebih cepat tanpa mengganggu pekerjaan rutin. Ia juga berencana mengaktifkan kembali Komite Audit.

“Saya kan tidak bisa membersihkan rumah saya kalau sapu saya kotor. Dan saya melihat di Inspector General pun tidak semuanya bersih. Makanya kemudian saya harus membentuk Komite Audit. Menurut saya itu wajib,” katanya.

Menurut dia, persoalan ini sudah menjadi perhatian Presiden sejak awal dirinya ditunjuk sebagai menteri. Ia menyebut Presiden Prabowo Subianto telah memberi pesan tegas. “Cuma satu yang dipesan Pak Prabowo ke saya. Bersihkan kementerianmu. Bersihkan,” ucap Dody menirukan pesan tersebut.

Ia mengaku pada awal masa jabatan lebih fokus pada penyerapan anggaran hingga kuartal ketiga, dengan target realisasi di atas 95 persen. Namun memasuki kuartal keempat, perhatiannya beralih pada penyelesaian temuan kerugian negara sekitar Rp1 triliun. Dari situ ia mulai mengevaluasi internal Inspektorat Jenderal.

“Saya baru mulai tahu ternyata sapu saya tidak 100% bersih. Ada beberapa sapu kotor di situ,” ujarnya.

Untuk itu, ia membentuk tim sendiri yang dipimpinnya langsung. Ia mengibaratkan tim tersebut sebagai “lidi bersih”. Dody juga menyebut mendapat dukungan dari Jaksa Agung yang menempatkan tiga personel di kementeriannya.

Ia menepis anggapan bahwa langkah pengunduran diri sejumlah pihak berlangsung mendadak. Menurutnya, proses sudah berjalan sebelumnya dan tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah. Seluruh langkah yang diambil, kata dia, telah dilaporkan secara lisan maupun tertulis kepada Presiden dan mendapat arahan lanjutan.

“Sebetulnya ini sudah sesuai dengan Pak Prabowo. Kan Pak Prabowo sudah mengatakan dari awal, para ASN, pegawai negeri, kalau lo gak sanggup lo mengundurkan diri atau kamu kita undurkan secara paksa,” katanya.

Dody menyatakan komitmennya memutus potensi rambatan persoalan agar tidak meluas. Sejumlah posisi direktur telah diganti dengan pelaksana tugas sambil menunggu proses audit tuntas. Ia menegaskan tidak ingin penyelesaian hanya berhenti pada pengembalian kerugian.

“Satu T bagi saya super besar. Satu T itu besar lho. Berapa huntara kita bisa bangun. Berapa jembatan kita bisa bangun,” ujarnya.

Ia mengaku persoalan tersebut kerap membebaninya secara pribadi. “Kalau saya ke kaca itu saya sering nangis,” kata Dody.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain