Teheran, Aktual.com – Iran dilaporkan memasukkan aset ekonomi Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah ke dalam daftar target serangan di tengah meningkatnya eskalasi konflik dengan Washington dan Israel.
Laporan tersebut disampaikan oleh Fars News Agency pada Minggu (8/3), yang mengutip seorang pejabat Iran yang berbicara secara anonim. Menurut sumber tersebut, Teheran telah merevisi strategi penargetannya sehingga tidak lagi hanya difokuskan pada target militer AS dan Israel.
Pejabat itu menyebutkan bahwa Iran kini memperluas daftar sasaran dengan memasukkan kepentingan ekonomi Amerika Serikat di kawasan tersebut.
“Iran telah memperluas daftar target dengan memasukkan modal dan kepentingan Amerika,” ujar pejabat tersebut seperti dikutip Fars.
Keputusan itu diambil setelah muncul berbagai pernyataan dari sejumlah pejabat AS dan Israel yang oleh Iran dinilai sebagai ancaman langsung terhadap rakyatnya.
Ketegangan meningkat setelah pada Minggu malam, AS dan Israel melancarkan serangan udara yang menargetkan fasilitas penyimpanan minyak Iran di Teheran dan wilayah sekitarnya. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan signifikan pada sejumlah fasilitas energi, termasuk Depo Minyak Shahran.
Eskalasi konflik di Timur Tengah semakin meningkat sejak Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Otoritas Iran mengklaim serangan tersebut menewaskan lebih dari 1.200 orang dan melukai lebih dari 10.000 lainnya, termasuk pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan menggunakan rudal dan drone yang menargetkan wilayah Israel serta fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa negaranya menolak tuntutan Washington untuk menyerah tanpa syarat.
“Kami tidak pernah menyerah. Kami tidak akan menyerah tanpa syarat, dan kami akan terus melawan selama diperlukan,” kata Araghchi dalam wawancara dengan NBC News.
Ia menambahkan bahwa Iran akan terus mempertahankan wilayah, rakyat, dan martabat nasionalnya.
“Kami terus mempertahankan diri dan kami membela wilayah kami, rakyat kami, serta martabat kami. Martabat kami tidak untuk diperjualbelikan,” ujarnya.
Araghchi juga menilai bahwa saat ini masih terlalu dini untuk membahas kemungkinan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat di tengah konflik yang masih berlangsung.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi

















