Sejumlah pegiat melakukan ajakan untuk berkendara dengan aman (savety riding) di Jakarta, Minggu (19/11/2017). Dalam aksinya mereka mengajak seluruh masyarakat untuk mematuhi ketentuan berlalulintas serta berkendara dengan aman agar terhindar dari kecelakaan. AKTUAL/Munzir

Jakarta, Aktual.com – Anggota Komisi V DPR RI Saadiah Uluputty menyoroti tingginya angka kecelakaan lalu lintas nasional yang dinilai sudah berada pada tingkat mengkhawatirkan. Ia mengingatkan agar persoalan keselamatan di jalan raya menjadi perhatian serius Kepolisian Negara Republik Indonesia, terutama menjelang arus mudik Idul Fitri.

Menurut Saadiah, data kecelakaan lalu lintas menunjukkan tren yang memprihatinkan dalam beberapa tahun terakhir. Tingkat kecelakaan yang tinggi menandakan masih lemahnya sistem keselamatan jalan di Indonesia.

“Tentu, kondisi keselamatan di jalan raya ini berada pada titik yang mengkhawatirkan. Dengan populasi sekitar 287 juta jiwa, pada 2025 saja angka kecelakaan lalu lintas menyentuh 26,33 per 100 ribu penduduk,” ujar Saadiah melalui rilis yang diterima Parlementaria, Jumat (13/3/2026).

Ia menjelaskan, berdasarkan data yang dihimpun, jumlah kecelakaan pada 2024 mencapai sekitar 152 ribu kejadian. Angka tersebut meningkat pada 2025.

“Saya mengangkat data tahun 2024, jumlah laka menyentuh angka 152 ribu per tahun. Sementara di tahun 2025 berdasarkan data Kepolisian RI, angka laka naik menjadi 155.433 kejadian dengan korban meninggal dunia mencapai 75.550 jiwa,” jelasnya.

Saadiah menilai angka tersebut sangat jauh dari target nasional yang telah ditetapkan pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2022. Dalam regulasi itu, pemerintah menargetkan angka kematian akibat kecelakaan lalu lintas berada pada kisaran 9,53 per 100 ribu penduduk.

“Angka ini menunjukkan kesenjangan yang sangat lebar, hampir tiga kali lipat dibandingkan dengan target rencana umum nasional keselamatan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti bahwa tingkat kematian akibat kecelakaan lalu lintas di Indonesia masih jauh di atas standar keselamatan global yang ditetapkan World Health Organization.

“Ini fenomena yang menempatkan Indonesia jauh di bawah standar keamanan global WHO yang berada di bawah 10 per 100 ribu jiwa. Kita berada pada angka 26,33, sehingga risiko kematian di jalan raya masih menjadi ancaman nyata,” ungkapnya.

Dalam konteks arus mudik Lebaran, Saadiah menegaskan bahwa perjalanan masyarakat tidak boleh dipandang sekadar aktivitas rutin tahunan. Ia mengingatkan bahwa keselamatan pemudik harus menjadi prioritas utama.

“Olehnya itu kami memberikan masukan agar mudik tidak sekadar rutinitas pergerakan masyarakat, tetapi harus dipahami bahwa yang dipertaruhkan adalah nyawa rakyat,” tegas politisi Partai Keadilan Sejahtera tersebut.

Sebagai langkah konkret, Saadiah mengusulkan agar pengawasan terhadap kecepatan kendaraan di ruas jalan berisiko tinggi diperketat serta kepatuhan penggunaan perlengkapan keselamatan, khususnya bagi pengendara sepeda motor, terus ditingkatkan.

Ia juga mengapresiasi langkah pemerintah melalui Kementerian Perhubungan Republik Indonesia yang memperluas program mudik gratis sebagai upaya mengurangi risiko kecelakaan.

“Pembatasan ketat perjalanan mudik jarak jauh serta peningkatan kapasitas mudik gratis merupakan langkah yang patut diapresiasi dan diharapkan dapat terus diperkuat pada tahun-tahun mendatang,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi