Jakarta, aktual.com – Ketidakpastian ekonomi global kembali menguat seiring meningkatnya tensi geopolitik pada awal 2026. Data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menunjukkan perekonomian dunia masih dibayangi perlambatan, dipicu konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.
Dampaknya terasa pada pasar komoditas dan keuangan global. Meski begitu, probabilitas resesi Indonesia pada Maret 2026 tercatat hanya 5 persen, jauh lebih rendah dibandingkan Amerika Serikat 25 persen, China 15 persen, dan Brasil 10 persen.
Kenaikan tensi geopolitik turut mendorong lonjakan harga energi dan komoditas strategis. Harga minyak Brent tercatat naik 66 persen secara year to date ke level USD101 per barel, dengan rata-rata hingga 13 Maret 2026 sebesar USD89 per barel.
Batu bara sebagai alternatif energi juga meningkat sekitar 25 persen menjadi USD135 per MMBtu. Sementara itu, harga emas sebagai instrumen lindung nilai naik sekitar 18 persen hingga menyentuh USD5100 per troy ons.
Di sektor keuangan, tekanan terlihat dari meningkatnya indikator risiko global seperti VIX, MOVE, dan CDS 5 tahun. Indeks dolar menguat ke level 100, yield obligasi Indonesia tenor 10 tahun naik menjadi 6,8 persen, IHSG melemah 17,5 persen ke level 7.137, dan rupiah terdepresiasi 1,5 persen menjadi Rp16.944 per 13 Maret 2026.
Menanggapi situasi tersebut, Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, menilai Indonesia tetap memiliki ruang manuver dalam menentukan arah kerja sama internasional, termasuk jika hubungan dengan Iran menghadapi jalan buntu di tengah tekanan Amerika Serikat. “Exit strategy-nya keluar dari jebakan perjanjian dengan AS. Bebas cari mitra dagang tanpa hiraukan sanksi,” ujarnya, kepada Aktual.com, di Jakarta, Jumat (27/3/2026).
Ia menyebut opsi kerja sama masih terbuka melalui kolaborasi dengan negara lain seperti Rusia dan Malaysia, meski jalurnya tidak langsung. Bhima menambahkan, hubungan regional dapat dimanfaatkan sebagai jalur alternatif.
“Misalnya kerjasama dengan Iran bisa kolaborasi dengan Rusia dan Malaysia. Jalurnya mungkin memutar tapi memungkinkan,” katanya.
Ia juga menyinggung bahwa Malaysia memiliki akses kapal di Selat Hormuz dari Iran, sementara hubungan Indonesia dan Malaysia di bawah kerangka ASEAN relatif stabil. Menurutnya, tekanan dari Amerika Serikat tidak sekuat yang dibayangkan.
“Trump tidak sekuat itu, paska serangan ke Iran, tingkat kepercayaan ke Trump turun. Approval rate-nya anjlok. Dan banyak negara cari mitra alternatif,” ucap Bhima.
Ia bahkan menyoroti kebijakan Amerika Serikat yang sempat mencabut sanksi pembelian minyak dari Rusia selama satu bulan sebagai sinyal inkonsistensi kebijakan energi. Dalam konteks risiko jangka panjang, Bhima melihat Indonesia tidak sepenuhnya bergantung pada pasar Amerika Serikat.
“Porsi ekspor langsung ke AS hanya 10% dari total ekspor. Ada risiko tapi dari sisi AS lebih butuh Indonesia saat ini dibanding Indonesia butuh AS,” katanya.
Ia juga mengingatkan adanya potensi kebijakan proteksionis dari Amerika Serikat, termasuk kemungkinan pembatasan ekspor bahan bakar. Bahkan ada kekhawatiran inflasi energi yang tinggi membuat Trump melakukan pelarangan ekspor bbm. “Karena American first, justru Indonesia kesulitan dapat pasokan kalau berharap dari AS,” ujarnya.
Artikel ini ditulis oleh:
Rizky Zulkarnain

















