Jakarta, Aktual.com – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Presiden Prabowo Subianto dinilai mulai memanfaatkan isu budaya populer, khususnya K-pop, untuk menjangkau pemilih muda.
Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, mengatakan fenomena tersebut menunjukkan bahwa K-pop kini telah menjadi pintu masuk strategis dalam komunikasi politik, terutama bagi generasi muda seperti Gen Z dan milenial.
“Ini menunjukkan bahwa K-pop sudah dianggap sebagai pintu masuk untuk menjangkau pemilih muda. Bukan lagi sekadar hiburan, tapi sudah jadi bagian dari ruang sosial mereka,” ujar Arifki, Jumat (24/4/2026).
Sebelumnya, Pramono menanggapi aspirasi komunitas penggemar ARMY terkait lokasi konser BTS yang diusulkan digelar di Jakarta International Stadium (JIS) atau Gelora Bung Karno (GBK).
Menurut Arifki, langkah tersebut merupakan pendekatan kultural yang menyasar sisi emosional komunitas penggemar yang dikenal memiliki loyalitas tinggi dan aktif di media sosial.
“Pendekatannya lebih ke emosional, masuk ke identitas dan komunitas. Ini biasanya bakal memancing perbincangan di kalangan komunitas ARMY,” katanya.
Di sisi lain, Presiden Prabowo melalui Menteri Luar Negeri Sugiono mendorong agar konser K-pop di Indonesia diperbanyak. Hal ini dinilai tidak hanya sebagai respons terhadap tingginya minat publik, tetapi juga berpotensi terkait dengan penguatan kerja sama ekonomi kreatif dengan Korea Selatan.
Arifki menilai, dua pendekatan tersebut mencerminkan strategi berbeda dalam menjangkau pemilih muda. Pramono berfokus pada respons lokal terhadap kebutuhan komunitas, sementara Prabowo melihat peluang dari sisi kebijakan yang lebih luas.
“Sebagai politisi jelas terbaca bahwa komunitas K-pop punya ruang strategis menjelang Pilpres 2029,” ujarnya.
Ia menambahkan, fenomena ini menunjukkan pergeseran strategi komunikasi politik di era digital, di mana budaya populer semakin sering digunakan sebagai medium untuk membangun kedekatan dengan publik.
Namun demikian, efektivitas pendekatan tersebut dinilai bergantung pada konsistensi kebijakan serta kemampuan mengaitkannya dengan kebutuhan nyata masyarakat, termasuk pengembangan industri kreatif.
Dengan meningkatnya jumlah pemilih muda dalam kontestasi politik ke depan, kemampuan membaca tren budaya populer dinilai akan menjadi faktor penting dalam menarik perhatian publik.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi

















