Para lansia mengaji di Ponpes Sepuh Payaman Kabupaten Magelang

Jakarta, Aktual.com – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menyatakan Indonesia resmi memasuki fase penuaan penduduk (aging population) berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025.

Amalia mengungkapkan, persentase penduduk lanjut usia (lansia) pada 2025 mencapai 11,97% dari total populasi.

“Persentase lansia hasil SUPAS 2025 adalah sebesar 11,97%, yang menunjukkan Indonesia sudah memasuki fase penuaan penduduk,” ujarnya dikutip dari YouTube BPS, Rabu (6/5).

Ia menjelaskan, tren peningkatan jumlah lansia terus terjadi dalam lebih dari satu dekade terakhir.

Pada 2010, persentase lansia tercatat sebesar 7,59%, kemudian naik menjadi 8,47% pada 2015, dan kembali meningkat menjadi 9,93% pada 2020.

“Pada 2025, persentase penduduk lansia mencapai 11,97%, terdiri atas 12,61% lansia perempuan dan 11,34% lansia laki-laki,” kata Amalia.

Berdasarkan wilayah, distribusi lansia di Indonesia juga tidak merata. Provinsi dengan persentase lansia tertinggi adalah Yogyakarta dengan angka mencapai 17,83%.

“Yogyakarta memiliki lansia tertinggi 17,83%. Penduduk lansia terendah di Papua Tengah 6,71%,” ujar Amalia.

Selain Yogyakarta, provinsi dengan persentase lansia tinggi lainnya adalah Jawa Timur sebesar 15,45% dan Bali sebesar 15,07%.

Sementara itu, wilayah dengan persentase lansia terendah berada di kawasan timur Indonesia, yakni Papua Tengah (6,71%), Papua Barat (6,77%), dan Papua Selatan (6,81%).

SUPAS 2025 juga mengungkap sumber utama penghidupan lansia di Indonesia. Amalia mengatakan sebagian besar lansia masih bergantung pada keluarga sebagai sumber utama.

“Sebagian besar lansia memperoleh uang atau barang dari keluarga, baik suami atau istri, anak atau menantu, maupun saudara lainnya, dengan proporsi sebesar 48,56%,” jelasnya.

Selain itu, sumber penghasilan lansia juga berasal dari pekerjaan dengan kontribusi sebesar 37,72%. Sementara itu, sebagian lainnya mengandalkan uang pensiun (8,82%), jaminan sosial atau bantuan sosial (2,42%), serta sumber lainnya (1,35%).

“Kontribusi dari tabungan dan investasi tercatat paling rendah, yakni 1,13%,” ujar Amalia.

Selain peningkatan jumlah, komposisi penduduk Indonesia juga mengalami pergeseran struktur umur. Amalia menyebutkan, kelompok usia muda semakin menyempit, sementara kelompok usia lanjut semakin melebar.

“Komposisi penduduk menurut kelompok umur menunjukkan pergeseran, yaitu menyempit pada usia 0–14 tahun dan melebar pada usia 65 tahun ke atas,” tuturnya.

Fase Penuaan di DKI Jakarta

BPS DKI Jakarta, merujuk hasil survei penduduk antar sensus (Supas) 2025, menyatakan Jakarta memasuki masa penuaan penduduk (aging population) yang ditandai dengan proporsi penduduk lansia sebesar 12,01 persen.

“Hampir seluruh kabupaten/kota di DKI Jakarta telah mengalami penuaan penduduk. Kondisi ini menandakan perlunya kebijakan pemerintah yang ramah lansia,” kata Kepala BPS DKI Jakarta Kadarmanto di Jakarta, Selasa (5/5).

Masa penuaan penduduk ditandai oleh persentase penduduk berusia 60 tahun ke atas sebesar 10 persen atau lebih.

Berdasarkan wilayah, kecuali Kepulauan Seribu, seluruh wilayah administrasi kota di Jakarta saat ini telah menunjukkan aging population.

Persentase terbanyak berada di Jakarta Pusat dengan angka aging population 14,12 persen, diikuti Jakarta Selatan sebesar 12,55 persen, Jakarta Timur sebesar 11,70 persen, Jakarta Barat sebesar 11,68 persen, Jakarta Utara sebesar 11,19 persen dan Kepulauan Seribu sebesar 8,6 persen.

Kadarmanto juga menyampaikan terkait rasio ketergantungan DKI Jakarta mengalami peningkatan, namun masih di bawah 50, yaitu tercatat sebesar 40,34.

“Artinya, setiap 100 penduduk usia produktif, menanggung sekitar 40 penduduk usia non-produktif,” tutur Kadarmanto.

Rasio tersebut meningkat dibandingkan hasil Sensus Penduduk 2010 (36,94) dan Sensus Penduduk 2020 (39,73) seiring dengan peningkatan proporsi penduduk usia produktif (15-64 tahun).

Meskipun meningkat, selama periode 2010-2025, rasio ketergantungan tetap berada di bawah 50, yang menunjukkan Jakarta masih berada dalam fase bonus demografi.

Sementara itu, dari sisi kabupaten/kota, Jakarta Selatan memiliki rasio ketergantungan terendah sebesar 39,00, sedangkan Kepulauan Seribu mencatat rasio ketergantungan tertinggi sebesar 45,81.

Artikel ini ditulis oleh:

Eroby Jawi Fahmi