Jakarta, Aktual.com – Menurut Hujjatul Islam Al-Imam Al-Ghazali ra., semua perbuatan baik dan akhlak mulia yang diajarkan oleh agama adalah buah dari cinta. Sedangkan segala yang tidak dibuahkan oleh kecintaan kepada Allah adalah kerana mengikuti hawa nafsu dan merupakan akhlak yang tercela.

Memang, kadang-kadang seseorang mencintai Allah karena kenikmatan yang diterimanya. Tapi, kadang seorang juga mencintai Allah kerana keagungan dan keindahan-Nya meskipun Dia “tidak memberikan” kenikmatan kepadanya. Para pecinta tidak terlepas dari kedua macam cinta tersebut.

Maka dari itu, Imam Al-Junaid ra. mengatakan, “Dalam mencintai Allah, orang terbagi menjadi dua macam, yaitu awam dan khusus. Orang awam memperoleh cinta tersebut kerana mereka mengenal kebaikan dan kenikmatan-kenikmatan Allah yang terus-menerus, serta tak terhitung jumlah dan banyaknya. Mereka tidak mampu mengendalikan diri mereka agar rela kepada-Nya. Besar kecil cinta mereka tergantung besar-kecilnya kebaikan Allah yang mereka terima.

Sedangkan orang khusus memperoleh cinta karena besarnya kemampuan, kekuasaan, ilmu pengetahuan, hikmah, dan upayanya untuk menjadikan Sang Kekasih sebagai satu-satunya yang harus ia cintai. Ketika mereka mengenal sifat-sifat-Nya yang sempurna dan nama-nama-Nya yang indah, mereka tidak mampu menolak untuk mencintai-Nya. Dengan sifat-sifat dan nama-nama tersebut, bagi mereka Tuhan berhak untuk dicintai. Hal itu karena Allah memang layak memperoleh cinta meskipun Dia hilangkan semua kenikmatan dari para pecinta khusus tersebut.”

 

Disarikan dari Al-Mahabbah karya Imam Al-Ghazali ra.

(As'ad Syamsul Abidin)