Corporate Public Relations Manager PT Indofood Sukses Makmur Tbk, Nurulita Novi Arlaida (kiri) berbincang dengan Ketua Desa Binaan Indofood di Kelurahan Ciketing,Kecamatan Bantar Gebang,Bekasi, Anne Pudjiastuti (tengah) serta Pemilik Mi Kondang,UKM binaan Bogasari (grup Indofood), Pandiono seusai melakukan talkshow yang bertemakan " Mendorong Tumbuhnya Ekonomi kerakyatan" di JCC,Jakarta, Sabtu (8/10). PT Indofood Sukses Makmur Tbk menampilkan berbagai program Corporate Social Responsibility (CSR) yang dimilikinya dalam Indonesia Philanthropy Festival yang berlangsung sejak 6-9 Oktober 2016 di JCC Senayan. Kehadiran Indofood pada event ini menunjukkan komitmen perusahaan untuk mendukung pencapaian Suistainable Development Goals (SDGs).Dalam kesempatan kali ini pula Indofood membahas dua program binaan yakni, Desa Binaan Ciketing di Bantar Gebang,Bekasi dan Mi Kondang,UKM binaan Bogasari yang mengungkapkan kisah dibalik keberhasilannnya sebagai mitra binaan. Aktual/Eko S Hilman

Jakarta, Aktual.com – Situasi perekonomian global yang bergejolak pasca kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, sedikit-banyak akan berpengaruh terhadap kondisi perekonomian Indonesia.

Sebab itu, mahasiswa sebagai agen perubahan harus segera bersikap agar dampak perekonomian global tidak memengaruhi perekonomian kalangan masyarakat menengah ke bawah.

“Mahasiswa harus bersikap dan terjun langsung melebur bersama masyarakat untuk menjaga kondusifitas perekonomian Indonesia. Ini merupakan sebuah terobosan yang bagus,” ujar Aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Candra Wahyudi, di Jakarta, Kamis (2/2).

Candra menjelaskan, salah satu langkah yang realistis adalah melalui pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Untuk objek usahanya, bisa dengan menyasar industri kreatif yang ada di daerahnya masing-masing.

Menurut Candra, mahasiswa dapat memanfaatkan waktu luang di luar perkuliahannya dengan terjun ke dunia bisnis UKM industri kreatif. Bahkan bisa menjadi partner pemerintah dalam mengembangkan UKM, misalnya melalui organisasi kemahasiswaan seperti PMII agar bisa terkontrol.

“Sumberdaya Cabang PMII yang tersebar dari Sabang-Merauke bisa menjadi contoh modal utamanya,” katanya.

Hal tersebut, dapat dilakukan dan merupakan kesempatan besar yang harus dimanfaatkan, terlebih dengan beragam fasilitas kemudahan bagi UKM yang disediakan pemerintahan Jokowi-JK saat ini.

“Kita sebagai mahasiswa harus terjun langsung untuk membantu masyarakat menghadapi persoalan yang nyata, dengan memanfaatkan UKM industri kreatif,” kata Candra.

UKM, lanjut Candra, merupakan pondasi perekonomian yang akan mampu menopang perekonomian Indonesia dari ancaman gejolak perekonomian dunia. Sebab, pelaku UKM merupakan masyarakat menengah ke bawah.

“Sehingga roda perekonomian akan bergerak, karena daya beli masyarakat terjaga bahkan meningkat,” katanya.

Kenapa UKM, karena UKM telah terbukti mampu bertahan menghadapi krisis ekonomi 1998 serta resesi perekonomian global tahun 2008 silam.

Seperti diketahui, pemerintah saat ini tengah menggencot pertumbuhan UKM, bahkan mendorong UKM go international dengan memberikan fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE). Kebijakan KITE ini merupakan insentif dari pemerintah kepada UKM yang ingin melakukan ekspor sehingga mendukung kemudahan usahanya ke pasar global.

“Kebijakan KITE harus didukung dan dimanfaatkan oleh mahasiswa dengan baik, sebab ini kesempatan yang sangat bagus untuk mewujudkan kemandirian perekonimian,” jelasnya.

(Arbie Marwan)