عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
[رواه البخاري ومسلم]

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya (Riwayat Imam Bukhori dan Muslim)

Faedah, Tanbih dan Hikmah Hadits

Barangsiapa sempurna imannya, tidak akan banyak bicara dan hanya bicara yang bermanfaat. Karena meyakini bahwa setiap perkataan akan dimintai pertanggungjawaban. Allah memperingatkan bahwa terdapat malaikat yang mencatat setiap ucapan manusia, yang baik maupun yang buruk. Allah Ta’ala berfirman,

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.”
(QS. Qaaf [50]: 18)

Kalam menurut sahabat ada 4 macam:
1. Kalam yang Berbahaya dan membahayakan. Seperti provokasi, gosip, hasad, ujaran kebencian dll.
2. Kalam yang bermanfaat, baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain
3. Kalam Multi tafsir. Bisa diartikan baik atau buruk, tergantung kapasitas pendengar.
4. Kalam Netral.

Rasulullah SAW juga bersabda:

سلامة الإنسان في حفظ اللسان

“Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan.” (H.R. al-Bukhari).

Keselamatan insan ada pada lisannya. Orang cerdas adalah yang mampu mengolah kata-katanya agar bermanfaat untuk banyak orang. Untuk mengamalkan bab ini, bahkan para salik sering melakukan puasa bicara.

Menghormati Tetangga

Membantu 40 rumah di depan, belakang, kanan kiri. Imam At-Thabrani meriwayatkan dari Ka’ab bin Malik r.a., dari Nabi Muhammad saw:
“ألا إن أربعين دار جار”
“Ingatlah bahwa empat puluh rumah itu adalah tetangga.”

Di Indonesia bagus karena memiliki sistem RT RW sehingga mempermudah untuk mengetahui tetangga kita yang membutuhkan bantuan.Jangan sampai tetangga kita kekurangan nikmat, apalagi nikmat iman. Bagus jika diadakan kajian, tahlilan, yasinan di setiap RT.

Hak tetangga
1. Dibantu saat kesusahan dan kelaparan.
2. Menutupi aib mereka.
3. Menjenguk jika ada yang sakit dan melakukan takziah.

Saat masak dan baunya tercium oleh tetangga, maka wajib bagi kita untuk membagi masakan tersebut ke tetangga. Lantas bagaimana dengan foto yang kita posting di media sosial? Ada lebih banyak orang yang pengen, harusnya kita membaginya juga karena sekarang, tetangga bukan hanya yang ada disebelah rumah, tapi juga tetangga online, tetangga sosmed kita.

Sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam :

لَيْسَ الْـمُؤْمِنُ الَّذيْ يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إلَى جَنْبِهِ

Bukan mukmin, orang yang kenyang perutnya sedang tetangga sebelahnya kelaparan” (HR. Al Baihaqi)

Beliau juga bersabda:

إِذَا طَبَخْتَ مَرَقًا فَأَكْثِرْ مَاءَهُ ، ثُمَّ انْظُرْ أَهْلَ بَيْتٍ مِنْ جِيْرَانِكَ فَأَصِبْهُمْ مِنْهَا بِمَعْرُوْفٍ

Jika engkau memasak sayur, perbanyaklah kuahnya. Lalu lihatlah keluarga tetanggamu, berikanlah sebagiannya kepada mereka dengan cara yang baik” (HR. Muslim)

Kita harus selalu berbuat baik pada tetangga, karena jika terjadi sesuatu, tetangga yang paling pertama menolong kita, bukan saudara yang jauh. Rasulullah saw bersabda,

مَنْ أَذَى جَارَهُ فَقَدْ أَذَانِي ، وَمَنْ أَذَانِي فَقَدْ أَذَى اللَّهَ ، وَمَنْ حَارَبَ جَارَهُ فَقَدْ حَارَبَنِي ، وَمَنْ حَارَبَنِي فَقَدْ حَارَبَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ

Barangsiapa yang menyakiti tetangganya berarti menyakiti diriku. Barangsiapa yang menyakiti diriku berarti manyakiti Allah. Barangsiapa yang menyerang tetangga, berarti menyerangku. Barangsiapa yang menyerangku berarti menyerang Allah yang Maha Tinggi. ( HR. al-Daylami)

Hikmah memuliakan tetangga diantaranya yaitu memanjangkan umur dan menambah rezeki.

Memuliakan Tamu

Seperti kaum Anshor yang sangat memuliakan tamunya, meskipun dirumahnya sendiri kekurangan, anak istri belum makan, tapi untuk menghormati tamu akan diada-adakan.

Kyai Nafis ketika bertamu ke Maroko, Aljazair dan negeri-negeri para masyayikh dan auliya’ lainnya yang menjamunya para ahlul bait Rasulullah saw. namun sikap para ahlul bait sangat tawadlu. Mereka bukan ingin dimuliakan dan difasilitasi tapi malah selalu ingin memuliakan dan memfasilitasi para tamunya. Ini contoh untuk kita agar betul-betul ikraamu dhuyuf (memuliakan tamu) sebagaimana Sunnah Rasulullah saw.

Wallahu A’lam bisshawaab

RESUME KAJIAN DHUHA KITAB ARBAIN NAWAWI BERSAMA KH. MUHAMMAD DANIAL NAFIS Hafizhahullah
(Via zoom Cloud Meeting 06.40 – 08.40 WIB Senin 19 Sya’ban 1441 / 13 April 2020)