عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ,
(رَوَاهُ البُخَارِي)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, seorang lelaki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah aku wasiat.” Beliau menjawab, “Janganlah engkau marah.” Lelaki itu mengulang-ulang permintaannya, (namun) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (selalu) menjawab, “Janganlah engkau marah.”
(HR. Bukhari)

Faedah, Tanbih dan Hikmah Hadits

Tentang seseorang yang bertanya kepada Rasulullah saw., ada beberapa pendapat. Ada yang mengatakan bahwa itu adalah Abdullah bin Umar, Abu Darda’ dan Sufyan bin Abdullah asshaqofi. Nama dari sahabat yang bertanya meminta nasihat tidak perlu disebutkan di sini dan tidak mencacati hadits. Di sini ia meminta nasihat, berarti meminta sesuatu yang penting. Para Sahabat ra. senang meminta wasiat dan nasihat, yang artinya sesuatu yang bermanfaat untuk dunia akhirat, untuk dirinya dan orang lain.

Jangan marah memiliki dua arti. Pertama, tidak boleh memunculkan sikap marah. Kedua, menghindari hal-hal yang membuat kita maupun orang lain menjadi marah.

Husnul khuluq (Baik Akhlak), juga berarti menahan amarah. Sahabat dan Rasul saw juga pernah marah, namun tidak berkelanjutan (lebih dari 3 hari) serta hanya untuk tarbiyah dan psychological treatment, memberi efek jera.

Tubuh memiliki empat unsur penyusun, yaitu air, api, tanah, dan udara. Marah adalah api, yang jika dikelola dengan baik bisa menjadi energi penyemangat, namun jika dibiarkan akan membakar dan menghanguskan diri sendiri. Air sangat bagus, sejuk dan menentramkan. Tapi jika terlalu banyak akan berbahaya seperti banjir dan air bah, akan menenggelamkan dalam kesedihan dan keputusasaan. Begitupun dengan elemen yang lain, semua harus seimbang.

Api letaknya diotak, jika membakar lebih dari 3 hari bisa mengakibatkan stroke, air di mulut, udara letaknya di hidung dan tanah terletak pada bagian paha kebawa. Saat sujud, semua elemen itu bertumpu, menciptakan keseimbangan. Menundukkan diri, memadamkan api.

2 Cara menahan amarah menurut Imam Al Ghozali ra.

Pertama dengan ilmu
1. mengingat apa yang Allah Taala dan Rasulullah saw. perintahkan, untuk sabar dan menahan amarah.
2. Memikirkan apa saja akibat yang ditimbulkan jika marah. Bukankah malah akan menambah konflik dan dendam?
3. Apa manfaat bagi diri kita jika marah?

Kedua, dengan amal
1. Berganti posisi. Saat marah, ketika berdiri duduklah, ketika duduk berbaringlah.
2. Ambil air untuk berwudhu, karena hanya air yang bisa memadamkan api.
3. Dzikir. Awali dengan taawudz. Memilih dzikir dengan frekuensi yang menenangkan, seperti istighfar dan sholawat.

Setiap orang memiliki potensi marah, riya’, sum’ah, dan sifat buruk lain, sebagai bahan untuk ujian. Kita harus pandai memanage, bukan menghilangkan, karena marah juga masih dibutuhkan dalam rangka tarbiyah (untuk menasihati, mendidik).

Kita harus sadar saat marah, harus terkontrol. Marah laksana api unggun, yang membuatnya makin membara adalah bahan bakar dan angin, di sini adalah tugas setan untuk selalu mengipasinya. Itulah mengapa kita disarankan agar selalu memohon perlindungan dari syaitan.

Tips mengatur amarah

Istighfar sambil olah nafas. Saat melafalkan Astaghfirullaah, tarik nafas, dan saat melafalkan Al-Azhiim, hembuskan nafas.

Adapun doa saat mendapatkan tekanan, agar tetap diberikan ketenangan, bacalah QS Ghaafir : 44

وَأُفَوِّضُ أَمْرِىٓ إِلَى ٱللَّهِ إِنَّ ٱللَّهَ بَصِيرٌۢ بِٱلْعِبَادِ

“Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.

Saat Difitnah
1. Memohon nasihat pada guru
2. Klarifikasi dengan kesadaran, bukan emosi.
Saat difitnah, Sayyidah Aisyah ra sampai didiamkan oleh Rasulullah saw. Namun diamnya ini untuk tarbiyah, agar Sayyidah Aisyah ra. muhasabah.
3. Sabar.
Sayyidah Aisyah ra sampai sakit karena merasa Rasulullah saw. tidak mempercayainya. Rasulullah saw. bersabar dengan datangnya petunjuk.
4. Memohon petunjuk kepada Allah.
5. Menanamkan dalam diri bahwa hidup kita bukan untuk manusia, bukan untuk dihormati dll. Namun hidup kita hanya untuk Allah SWT.

Riya’
Adalah menunjukkan amal yang harusnya untuk Allah, namun tercampur dengan kepentingan yang lain. Merasa takut riya’, namun itu merupakan tuntutan pekerjaan tidak mengapa. Niatkan diawal semua untuk Allah. Niat setiap pagi. Kosongkan segala motif selain kepada Allah.

Niatkan kerja sebagai bentuk pengabdian kepada Allah, sebagai upaya kita menjadi bermanfaat untuk orang lain, dan niatkan ikhtiar untuk mendapat rizki yang halal dan thoyyib untuk keluarga. Tidak ingin dipandang. Bekerja dengan nilai-nilai ketuhanan.

Allah yang mengarahkan kita untuk melakukan ini, sehingga saat melakukan nya hakikatnya bukan kita yang melakukan, tapi Allah yang berkehendak. Ini cara melatih diri untuk masuk ke dalam tauhidul Af’aal (mengesakan segala perbuatan hanya Allah).

Daganganmu laku bukan karena marketingku yang bagus, bukan karena presentasi mu yang hebat. Mulut kita saja penuh dosa-dosa. Semua itu datang dari Allah, karena Allah.

Salah pilih teman

Sudah terlanjur curhat ternyata teman kita tidak baik, sehingga takut rahasia kita akan disebarkan. Selama ini kita terlalu takut, terlalu memikirkan mahluk-Nya. Padahal dia hanya tau secuil rahasia kita. Sedangkan Allah? Dan malaikat raqib atid yang selalu mencatat keburukan kita, kita tidak pernah takut jika Allah membuka aib kita.

Sebaiknya, curhat hanya dilakukan pada guru, menceritakan keburukan masalalu maupun kekhawatiran masa depan. Jika terlanjur, berdoa:

اللهم اجبر أمة سيدنا محمد صل الله عليه وسلم،
اللهم استر عيوبنا واغفر لنا ذنوبنا يا رب العالمين.

Allahummajbur ummata sayyidina Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Allahummastur ‘uyubana, waghfir lana, dzunubana, ya rabbal alamin.

“Ya Allah, tamballah (kekurangan) umat baginda Nabi Muhammad saw. Ya Allah, tutupilah aib-aib kami dan ampunilah dosa-dosa kami, wahai Tuhan Pencipta dan Pemelihara semesta alam”.

Memohon ampun dan mohon ditutupnya aib untuk seluruh umat Rasulullah saw termasuk diri kita.

Kelola api kemarahan, harus mendidik sehingga berujung pada kebaikan. Tidak boleh marah berlebihan dan membuat terputusnya rahmat Tuhan. Semoga Allah selalu memberi kita kesabaran dan kemampuan untuk memanage amarah dan keburukan lain dalam diri kita. Aamiin

Wallahu A’lam bisshawaab

RESUME KAJIAN DHUHA KITAB ARBAIN NAWAWI BERSAMA KH. MUHAMMAD DANIAL NAFIS Hafizhahullah
(Via zoom Cloud Meeting 06.40 – 08.45 WIB Selasa 20 Sya’ban 1441 / 14 April 2020)