Aktivitas penumpang menunggu keberangkatan pesawat Garuda Indonesia menuju Jayapura di Terminal 3 Ultimate, Bandara Soekarno-Hatta, Banten, Selasa (9/8) dini hari. Mulai hari ini Terminal 3 Ultimate beroperasi melayani penumpang maskapai Garuda Indonesia dengan penerbangan pertama menuju Jayapura. AKTUAL/TINO OKTAVIANO

Jakarta, Aktual.com – Komisi VI DPR RI berencana membentuk Panitia Kerja (Panja) Angkasa Pura II untuk menginvestigasi masalah terminal 3 ultimate Bandara Soekarno-Hatta yang banjir akibat hujan deras beberapa waktu lalu. Selain banjir, terminal baru yang diklaim mirip bandara Changi itu ternyata banyak menerima keluhan.

“Ada rencana bentuk panja, untuk meneliti tentang terminal 3. Kan banyak complain,” ujar anggota Komisi VI DPR Darmadi Durianto di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (19/10).

Pihaknya sepakat membentuk panja lantaran ingin mengetahui penyebab peristiwa yang sempat membuat malu ‘pintu gerbang’ Indonesia tersebut. Bahkan, pengoperasiannya pun terkesan diburu-buru.

“Mereka belum siap, planning enggak bagus padahal biaya pembangunan mahal. Jadi perlu diaudit, per meter-nya kan Rp12 juta. Makanya apakah ini bener atau enggak (pelaksanaan) dilapangan. Maka bentuk panja,” ungkap Politisi PDIP ini.

“Panja akan audit biaya pembangunan. Karena dengan biaya bintang lima, dapat kualitas bintang tiga dengan Rp4,7 T untuk pembangunan doang,” tambahnya.

Diketahui, anggaran pembangunan terminal 3 Ultimate Bandara Soetta sebesar Rp4,7 T untuk konstruksi, Rp2 T untuk biaya lainnya. Maka total biaya pembangunan Rp7 T dari gabungan nilai investasi dan Penyertaan Modal Negara (PMN).

“PMN (Rp2 T), hanya pembebasan lahan. Kalau pembangunam konstruksi Rp4,7 T. Ini salah satu yang akan kita lihat juga selain masalah pelayanan,” kata Darmadi.

Setelah resmi dibentuk, pihaknya akan langsung memanggil pihak-pihak terkait untuk mendapat informasi mengenai alasan terburu-burunya pemerintah mengoperasikan terminal 3 itu. Menurutnya, terminal 3 ultimate tidak direncanakan secara baik sehingga pembangunannya tambal sulam.

“Kita panggil (Menhub), kan terkait juga.”

 

*Nailin

()