Presiden RI Joko Widodo menyapa warga saat membagikan paket sembako di Kebon Singkong, Kelurahan Klender, Jakarta Timur, Selasa (8/9/2015). Sebanyak 1.000 sembako diberikan kepada warga yang kurang mampu.

Jakarta, Aktual.com — Presiden Joko Widodo dinilai sudah sadar posisi sebagai orang nomor satu di negeri ini. Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan. Akan tetapi, kesadaran yang muncul belakangan setelah menjabat adalah terlambat. Kebijakan demi kebijakan yang dikeluarkan sudah kadung dirasakan masyarakat.

“Sekarang dia baru sadar, tapi terlambat. Ingat ga lebaran kemarin Jokowi tidak ke rumah Mega, itu karena dia sudah sadar sebagai orang nomor satu di negeri ini. Kenapa sadarnya baru sekarang,” tegas pengamat politik Universitas Indonesia (UI), Prof Dr M Budyatna, saat dihubungi Aktual.com kemarin, ditulis Selasa (6/10).

Pada Hari Raya Idul Fitri 2015, Jokowi berada di Aceh. Usai berkunjung ke Serambi Mekah, ia memilih pulang atau mudik ke kampung halamannya di Solo, Jawa Tengah. Padahal, Wapres Jusuf Kalla dan beberapa menteri Kabinet Kerja datang dan bermaaf-maafan ke kediaman Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat.

Budyatna membeberkan salah satu kesalahan fatal yang dilakukan mantan Walikota Solo, Jawa Tengah itu. Pembentukan Kabinet Kerja yang awalnya komitmen tidak bagi-bagi kekuasaan, nyatanya tidak sehingga pada gilirannya menyandera jalannya pemerintahan Jokowi.

Ketika gesekan demi gesekan antar anggota kabinet, Presiden kebingungan bagaimana menyelesaikannya. Sementara publik tidak mau tahu, terpenting kebutuhannya masih mampu terjangkau.

Kondisi perekonomian yang lesu, menurutnya juga tidak lepas dari kepemimpinan Jokowi. Bagaimanapun, kondisi terkini erat kaitannya dengan penempatan atau bagi-bagi kursi di kabinet.

Budyatna lantas mempertanyakan ketika Presiden justru terus-terusan mencari alasan. Dari kondisi perekonomian global yang katanya sedang tidak menentu, hingga nilai tukar rupiah melemah malah menguntungkan masyarakat.

“Lah bagaimana, pemerintah sekarang selalu cari kambing hitam. Katanya karena krisis global, enggak tahu setiap hari Rupiah ambrol tapi ditutup-tutupi. Masyarakat menengah kebawah sudah hancur kena PHK, buruh-buruh mulai ngamuk, tetapi belum dibilang krisis,” demikian Budyatna

Artikel ini ditulis oleh: