Jakarta, Aktual.com – Institusi kepolisian belum juga menunjuk Kepala Bareskrim Polri secara resmi. Setumpuk pekerjaan rumah menanti jabatan orang nomor satu di reserse itu. Banyak beban tugas harus terselesaikan diantaranya penegakkan hukum yang dinilai masih tumpang tindih.
Misalnya penuntasan kasus penyidik senior KPK Novel Baswedan hingga sekarang tak kunjung ada kejelasan dan titik terang. Belum lagi jaminan kelancaran investasi di berbagai daerah agar tidak terjadi hambatan, pungli dan sejenisnya, ditangan Kabareskrim.
Ketua Dewan Tafkir PP Persis, Dr Muslim Mufti berpandangan idealnya kabareskrim adalah sosok yang memiliki integritas serta track record kinerja baik pula. Selain itu mempunyai perjalanan karir di bidang reserse, karena itulah menjadi inti dari tugas seorang kabareskrim.
“Apabila sosok tersebut mempunyai pengalaman matang di bidang reserse, maka kami yakin dan punya harapan kasus-kasus besar bisa diselesaikan. Kemudian kabareskrim ke depan diharapkan memiliki leadership yang baik dan kuat,” ungkap Dr Muslim dalam keterangan tertulisnya, Jumat (15/11).
Reskrim menurut dia, akan menjadi wajah sehari-hari institusi polri, karena berhadapan langsung dengan masyarakat, terutama pencari keadilan. Untuk itu, diperlukan figur yang bisa mengkonsolidasikan internal dengan baik. Termasuk dalam setiap penanganan kasus hukum, sedapat mungkin ditranpransikan kepada masyarakat.
“Kabareskrim baru juga harus mampu mengungkap kasus dugaan penyiraman air keras tehadap penyidik KPK Novel Baswedan. Sehingga kepolisian maupun Kapolri yang baru tidak terus menerus tersandera kasus penyiraman air keras Novel Baswedan,” paparnya.
Dengan demikian, kabareskrim dapat membantu tugas-tugas Kapolri baru dalam menjaga stabilitas keamanan maupun melakukan penegakan hukum secara adil dan transparan. Terutama mengubah stigma masyarakat mengenai hukum tumpul ke atas tetapi tajam ke bawah hanya rakyat kecil dan lemah.
“Dan untuk terakhir, yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa ketika proses penunjukan kabareskrim polri harus berdasarkan profesionalitas, kapasitas, serta kapabilitas tanpa mempertimbangkan sentimen personal apapun,” tutup Muslim menambahkan.
()