Jakarta, Aktual.com – Bank Indonesia (BI) menyebut kondisi fiskal di 2017 nanti masih banyak menghadapi tantangan. Sehingga dibutuhkan banyak adjustment atau penyesuaian, salah satunya terhadap belanja pemerintah.

Menurut Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara, kondisi fiskal di 2016 sudah dilakukan konsolidasi di tengah pelemahan perekonomian. Apalagi memang, penerimaan pajak juga terus di bawah target.

“Dengan begitu, pengeluaran (belanja) bisa dikendalikan. Dan Bu Menteri Keuangan (Sri Mulyani Indrawati) dengan support Bapak Presiden Jokowi dan DPR sudah melakukan adjustment terhadap fiskal,” jelas Mirza di acara Core Economic Outlook 2017, di Jakarta, Rabu (23/11).

Kondisi itu, disebutnya, akan terjadi pada 2017 nanti. Jika tidak ada penyesuaian fiskal itu, maka dampaknya potensi defisit bisa lebih dari 3% terhadap Produk Domestik Bruti (PDB).

“Dan itu kan tidak boleh menurut UU (Keuangan Negara). Bahkan jika defisit lebih 3% juga tidak bagus. Karena kreditur juga yang biasa kasih utang, nggak senang melihat deifisit (terlalu lebar),” ujar Mirza.

Kadang, kata dia, terlihat mudah sebab tinggal mengubah UU Keuangan Negara saja, agar batas defisit anggaran di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diubah lebih lebar.

“Memang, seolah-olah mudah, tapi kan kemudian yang mau memberi utang belum tentu mau (kembali kasih utang),” terang dia.

Pasalnya, menurut Mirza, pihak kreditur itu pasti memiliki kriteria bahwa batas defisit juga harus dijaga oleh pihak debitur dalam hal ini pemerintah Indonesia.

“Jadi tidak bisa dong berdasar keinginan debitur sendiri,” ucap dia.

Karena bagaimana pun juga, kata dia, defisit anggaran harus ada yang mendanai, salah satunya dana dari luar negeri. Termasuk juga dalam hal penerbitan Surat Utang Negara (SUN), sekalipun yang diterbitkan itu obligasi dengan valuta rupiah, tetap yang beli sekitar 40 persen itu investor asing.

Makanya di 2017 nanti, fiskal masih terus konsolidasi, belum melakukan ekspansi yang luas. Meski begitu, dari sektor perbankan, laju kredit juga harusnya sudah membaik.

“Jadi kredit sudah bisa mulai jalan. Dan restrukturisasi kredit harusnya mulai banyak yang selesai. Karena di tahun 2016 terjadi banyak restrukturisasi,” ujar dia.

Apalagi pada waktu harga komoditi mengalami kejatuhan yang signifikan ditambah kurs juga bergejolak di 2015-2016.

“Karena pada saat itu pasti ada debitur yang bermasalah, jadi harus dilakukan restrukturisasi. Tahun depan harusnya laju kredit sudah membaik dan bertumbuh 10-11 persen, sedang deposito tumbuh 9-10 persen,” pungkasnya.

(Busthomi)

(Arbie Marwan)