Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo memaparkan hasil Rapat Dewan Gubernur BI yang membahas BI Rate di Jakarta, Kamis (18/2). Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia menetapkan suku bunga acuan berada di level 7 persen atau turun 25 basis poin, yang merupakan kelanjutan setelah pada RDG Januari 2016 suku bunga acuan dipangkas menjadi 7,25 persen. ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma/aww/16.

Jakarta, Aktual.com — Laju pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2016 yang melambat sepertinya menjadi perhatian serius dari Bank Indonesia (BI). Pasalnya, saat ini BI mulai mengkoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi lebih rendah.

Dari semula sebesar 5,2-5,6 persen menjadi 5,0-5,6 persen. Hal ini karena BI melihat pertumbuhan ekonomi dunia yang akan lebih melambat dari sebelumnya.

“Pertumbuhan ekonomi domestik pada triwulan I 2016 lebih rendah dari perkiraan sebesar 4,92% (yoy). Tapi kami yakin pada triwulan-triwulan berikutnya akan membaik,” ujar Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo di Gedung BI, Jakarta, Kamis (19/5).

Perlambatan ekonomi di kuartal pertama ini, kata dia disebabkan oleh terbatasnya pertumbuhan konsumsi Pemerintah dan investasi swasta, di tengah akselerasi pengeluaran belanja modal Pemerintah.

Sementara dari sisi spasial, perlambatan ekonomi pada triwulan I 2016 terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia, dengan beberapa provinsi berbasis SDA migas.

“Yaitu di Kalimantan Timur dan Papua, mengalami kontraksi,” jelas dia.

Kondisi yang mencemaskan itu pun terjadi di dunia. Saat ini, lanjut Agus, pemulihan ekonomi AS masih belum solid, yang diindikasikan oleh melemahnya konsumsi dan beberapa indikator ketenagakerjaan, serta masih rendahnya inflasi.

Sehingga hal itu akan mendorong The Fed untuk tetap secara berhati-hati dalam melakukan penyesuaian suku bunga Fed Fund Rate (FFR). Sejalan dengan itu, pertumbuhan ekonomi Eropa juga masih terbatas dan dibayangi isu Brexit. Sementara itu, perekonomian Jepang masih terus tertekan.

“Lagi-lagi keadaan tersebut mendorong berlanjutnya pelonggaran kebijakan moneter di negara-negara maju, termasuk melalui penerapan suku bunga negatif,” jelas Agus Marto.

Apalagi juga, di pasar komoditas harga minyak dunia pun masih diperkirakan tetap rendah, akibat tingginya pasokan di tengah permintaan yang masih lemah. Meski memang, untuk harga beberapa komoditas ekspor Indonesia sudah membaik, seperti CPO, timah, dan karet.

“Dengan kondisi seperti itu, pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan 2016 diperkirakan 5,0-5,4% (yoy), sedikit lebih rendah dari perkiraan sebelumnya 5,2-5,6% (yoy). Tapi itu masih cukup tinggi,” jelas dia.

Meski begitu, BI memproyeksi pertumbuhan ekonomi pada triwulan-triwulan mendatang akan meningkat, didorong oleh peningkatan dan optimalisasi stimulus fiskal pusat/daerah.

“Khususnya terkait dengan percepatan pembangunan proyek infrastruktur,” ungkap Agus.

Deputi Gubernur BI, Ferry Warjiyo menambahkan, kondisi perlambatan ekonomi itu juga terjadi karena permintaan doemstik yang masih belum kuat.

“Artinya, stimulus fiskal yang sudah meningkatkan investasi di sektor publik infrastruktur ternyata masih belum mampu mendorong investasi swasta karena permintaan investasi swasta masih belum meningkat,” jelas Ferry.

Selain itu dari sisi demand atau permintaan juga belum kuat. Pasalnya, kata Ferry, demand untuk konsumsi ataupun investasi termasuk juga permintaan global belum membaik. “Ini aspek yang perlu ditangani pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” tegas dia.

Untuk itu, BI menyarankan ruang pelonggaran moneter yang selama ini tersedia bisa dimanfaatkan lebih awal. “Sepanjang stabilitas makro ekonomi dapat terus terjaga,” pungkas Ferry.

Artikel ini ditulis oleh: