Penelitian mahasiswa IPB 

Bila merujuk pada sejumlah penelitian, telah ada pembuktian bahwa indeks glikemik kurma tergolong rendah hingga sedang.

Ukuran kalori jika dengan indeks glikemik tergolong rendah adalah (< 55) atau sedang (55-70).

Terdapat beberapa jenis kurma yang beredar di pasaran mempunyai indeks glikemik sekitar 46 atau termasuk indeks glikemik rendah, namun ada pula kurma yang kering mempunyai indeks glikemik 100 sehingga perlu untuk memilih dengan baik.

Untuk memvalidasi manfaat dari kurma — di mana salah satu bagiannya adalah biji — sebuah penelitian yang dilakukan tim mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) menghasilkan temuan bahwa biji kurma bisa menjadi obat antidiabetes.

“Sektor industri juga dapat memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai bagian dari inovasi produk antidiabetes. Bagi masyarakat, penelitian ini memberikan pengetahuan mengenai khasiat biji kurma sebagai antidiabetes,” kata Lisa Giovanny, mahasiswi IPB yang menjadi ketua tim peneliti.

Lisa bersama sejawatnya mahasiswa IPB dari Program Studi Biokimia, yakni Faliha Arinda L dan Nurul Marfira melakukan riset itu melalui kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian (PKM PE) 2019.

Dalam penelitian yang dibimbing dosen Dr Laksmi Ambarsari, MS dari Departemen Biokimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, judul yang diangkat adalah “Bima Sakti : Biji Kurma (Phoenix dactilyfera L.) sebagai Antidiabetes dengan Mekanisme Kinetika Inhibisi terhadap alfa-Glukosidase”

Ia menjelaskan bahwa biji kurma mengandung metabolit sekunder berupa “flavonoid” dan “saponin” yang mampu menghambat “alfa-glukosidase”, enzim kunci pada metabolisme karbohidrat.

Penelitian sebelumnya, kata dia, telah membuktikan bahwa ekstrak air, etanol, metanol dan aseton mampu mengambat “alfa-glukosidase”, tetapi belum ada studi yang menjelaskan aktivitas penghambatan ekstrak etanol 70 persen biji kurma terhadap “alfa-glukosidase” dengan mekanisme kinetika inhibisinya.

(Zaenal Arifin)