Foto udara sawah yang mengering akibat musim kemarau di Kampung Sukamanah, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Senin (8/10). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat mencatat luas lahan pertanian yang terdampak kekeringan di Jabar mencapai 41.946 hektare. Guna menekan dampak kekeringan, Pemerintah Daerah telah menyalurkan 4,3 liter bantuan air bersih bagi warga yang terdampak kekeringan. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/pras/18.

Jakarta, Aktual.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memonitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) hingga 30 Juli 2019, terdapat potensi kekeringan meteorologis (iklim) di sebagian besar Jawa, Bali dan Nusa Tenggara dengan kriteria panjang hingga ekstrem.

“Dari hasil analisis BMKG, teridentifikasi adanya potensi kekeringan meteorologis yang tersebar di sejumlah wilayah,” kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal, Kamis (4/7).

BMKG memantau sejumlah wilayah di Indonesia mengalami kekeringan diantaranya Sumedang, Gunung Kidul, Magetan, Ngawi, Bojonegoro, Gresik, Tuban, Pasuruan dan Pamekasan.

Lebih lanjut dia mengatakan potensi Awas atau telah mengalami HTH lebih dari 61 hari dan prakiraan curah hujan rendah kurang dari 20 milimeter (mm) dalam 10 hari mendatang dengan peluang lebih dari 70 persen yaitu di Jawa Barat tepatnya Bekasi, Karawang dan Indramayu.

Serta di Jawa Tengah yaitu Karanganyar, Klaten, Magelang, Purworejo, Rembang, Semarang dan Wonogiri. Juga sebagian besar Jawa Timur dan DI Yogyakarta yaitu Bantul, Gunung Kidul, Kulonprogo dan Sleman.

Selain itu potensi kekeringan juga dapat terjadi di Buleleng Bali, Nusa Tenggara Timur yaitu di Sikka, Lembata, Sumba Timur, Rote Ndao, Kota Kupang, dan Belu. Serta di Nusa Tenggara Barat tepatnya di Bima, Kota Bima, Lombok Timur, Sumbawa dan Sumbawa Timur.

(Abdul Hamid)
1
2