Petugas menghitung uang dolar AS di Kantor Cabang BNI Melawai, Jakarta, Selasa (15/9). Nilai tukar rupiah terpuruk terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjelang Federal Open Market Committee (FOMC), Selasa (15/9) menyentuh level Rp 14.408 per dolar AS atau melemah 0,52 persen dibandingkan hari sebelumnya Rp 14.333 per dolar AS. ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma/ama/15

Jakarta, Aktual.com – Tengok sejarah penjarahan keuangan Indonesia dalam peristiwa chaos 1997/1998. Chaos meliputi kekacauan konstitusi dengan dimulainya amandemen UUD 1945, pembuatan berbagai UU neoliberal yang kacau, dan kekacauan sosial yang terjadi di seluruh tanah air.

Dari peristiwa itu kita akan belajar bagaimana penjarahan terhadap kekayaan keuangan bangsa Indonesia, yang selanjutnya pihak yang menjarah menjadi buffer beroperasinya reformasi hingga saat ini.

(1) sekilas tidak terlalu penting

Proses penjarahan dimulai dari Program rekapitalisasi bank swasta diluncurkan oleh BPPN pada bulan September 1998 ditengah kekacauan politik. Bank-bank tersebut dikategorikan menjadi tiga kelompok berdasarkan audit oleh perusahaan akuntansi internasional melalui penyesuaian yang didukung instutusi internasional IFI.

Ketiga kelompok bank tersebut yakni ; CAR bank kategori A berada di atas cut-off 4%, dan diizinkan untuk melanjutkan operasi. Itu antara 4% dan –25%, Kategori B, adalah kandidat untuk program rekapitalisasi asalkan mereka pemilik/ pemegang saham dapat menyuntikkan 20% modal baru yang diperlukan untuk mencapai CAR 4%.

Bank dengan CAR kurang dari –25% dimasukkan ke dalam Kategori C dan pemilik / pemegang saham mereka diberi waktu untuk menyuntikkan sejumlah ekuitas yang cukup untuk mendorong mereka ke Kategori A atau B, yang memenuhi syarat bank-bank ini untuk program rekapitalisasi. Bank-bank Kategori B dan C yang pemilik / pemegang sahamnya tidak dapat menyuntikkan modal yang diperlukan harus diambil alih oleh BPPN atau ditutup.

Hasil audit diumumkan pada bulan Maret 1999. Ditemukan bahwa dalam Kategori A, 73 bank memiliki CAR minimal 4% dan karenanya tidak termasuk dalam program kapitalisasi.

(Abdul Hamid)